- mbakpandu.com
Tentang stereotip pekerjaannya dan jenis pekerjaan lain di bidang teknologi merupakan pekerjaan yang maskulin, Pandu tidak setuju. Ia menyatakan dari segi jumlah, wanita yang bekerja di perusahaan teknologi semakin banyak dari waktu ke waktu. Berbeda dengan beberapa tahun lalu.
Menurutnya, potensi di bidang sains dan teknologi baik wanita dan pria tidak ada perbedaan. Wanita dan pria, menurut Pandu, punya kemampuan yang sama dalam bidang sains dan teknologi. Â
Malah dia berpandangan, saat ini teknologi bergerak ke lebih sosial dengan tren media sosial. Nah, dalam bidang media sosial ini, kaum hawa sejatinya memimpin dan menciptakan tren revolusi. Suatu waktu dia pernah membeberkan nyaris semua teknologi berorientasi pada perempuan.Â
Dia mengutarakan, perempuan lebih menggunakan perangkat mobile dibanding pria, perempuan menggunakan Facebook dan Twitter lebih banyak dibanding pria.
Sekitar 70 persen postingan di Facebook dibuat perempuan. Lebih tegas lagi, kaum hawa menghasilkan lebih banyak data dibanding kaum adam.
Dari sini, Pandu mengatakan, perempuan melakukan hal yang revolusioner, kaum hawa telah menciptakan tren media sosial. Dunia teknologi memang menciptakan tren, tapi kata dia, tren tersebut muncul karena kontribusi perempuan. Â
"Wanita merupakan pembentuk masyarakat. Berarti lebih banyak lagi pekerjaan IT yang lebih cocok dikuasai wanita karena berhubungan dengan community engagement," ujarnya.
Dalam hal penguasaan teknologi, Pandu berpandangan, justru adopsi yang dilakukan kaum hawa ini justru lebih tinggi. Bisa dilihat teknologi yang bersentuhan dengan media sosial, e-commerce, dan pengembangan komunitas.Â
“Di pekerjaan saya sebelumnya, malah banyak sekali wanita yang bekerja di rumah, sebagai IT engineer dan developer serta project manager. Lihat saja individu yang membuka online shop. Lebih banyak wanita," kata perempuan yang sebelumnya bekerja di IBM itu.
Soal diskriminasi saat menjalani pekerjaannya, ia mengaku bahwa saat tahun-tahun pertama bekerja di bidang teknologi informasi, dia masih merasakannya. Pandu menjelaskan, perekrutan menjadi saat kaum hawa dibeda-bedakan dengan pria.
Namun sekarang, setelah ia membuktikan kemampuannya, dirinya tak pernah lagi merasakan diskriminasi itu.