- VIVA/Muhamad Solihin
Berdasarkan hasil survei online Nielsen di 61 negara yang dirilis pada 16 Maret 2016 lewat situs resminya, nielsen.com, hampir dua per tiga atau 65 persen dari responden globalnya mengatakan, mereka memang menonton program dari layanan streaming VOD ini, baik konten panjang maupun pendeknya. Survei ini dilakukan pada lebih dari 30 ribu online konsumen dari Asia Pasifik, Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah/Afrika, dan Amerika Utara.
Generasi Z (usia 15-20) dan Milenial (usia 21-34) menjadi kelompok usia yang paling banyak menggunakan layanan berbayar ini, yakni sama-sama sebanyak 31 persen. Disusul kemudian Generasi X (usia 35-49) dengan 24 persen, Baby Boomer (usia 50-64) 15 persen, dan Generasi Silent (di atas 65 tahun) sebanyak 6 persen.
Lalu, mengapa layanan VOD kini booming di Indonesia? Apa serunya dan benarkah jadi ancaman bagi industri bioskop dan layanan televisi berbayar?Â
Tren VOD di IndonesiaÂ
Menonton lewat layanan streaming VOD ini merupakan bagian dari alternatif menikmati film dan serial, selain di media konvensional, seperti bioksop dan televisi. Hadirnya tren semacam ini tak bisa dihindari, karena beriringan dengan kemajuan teknologi itu sendiri.
Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Heru Sutadi menjelaskan, tren menonton video streaming apapun bentuknya, termasuk VOD sebenarnya sudah diprediksi sejak tahun 2012.Â
Di Indonesia, Genflix lebih dahulu meluncur pada tahun 2014. Puncaknya, kemunculan layanan seperti ini ramai pada tahun 2016. HOOQ resmi dirilis pada April 2016 dan Viu, serta iflix di bulan Juni dalam tahun yang sama. Catchplay kemudian makin meramaikan persaingan dengan bergabung dalam industri ini pada Oktober 2016.
Heru Sutadi mengatakan, Indonesia sebenarnya termasuk yang ketinggalan tren, sebab, layanan streaming VOD sudah lebih dahulu booming di negara lain, seperti Singapura dan Jepang.
"Indonesia ini termasuk ketinggalan, tapi saat mulai masuk penggunanya akan cepat naik," katanya kepada VIVA, Rabu, 11 April 2018.
![]()
CEO Grup CATCHPLAY, Daphne Yang, dalam acara kolaborasi First Media dan CATCHPLAY penyedia layanan Video on Demand di Jakarta, Rabu 11 April 2018. (VIVA/Muhamad Solihin)
CEO Group Catchplay Daphne Yang pun mengakui, bahwa pertumbuhan tren menonton lewat layanan streaming VOD di Indonesia sangat cepat dibanding market di negara Asia lainnya. Dari data yang diberikan Catchplay, layanan ini mengalami peningkatan jumlah pengguna sebanyak 50 sampai 60 persen dan 70 hingga 75 persen pada pengguna streaming-nya dari akhir tahun lalu hingga saat ini.