- Youtube/FIFA TV
Kabar ini sampai ke telinga PSSI. Mereka protes. Tapi, tetap saja tak bisa berbuat apa-apa. Sebab, FIFA sudah berfatwa bahwa organisasi yang diakui adalah NIVU.
NIVU kemudian menyiapkan tim di bawah arahan Cristoffel van Mastenbroek. Seleksi dilakukan. Walau ada instruksi ke pemain lokal dari PSSI agar tak ikut seleksi, nyatanya banyak dari mereka yang mencoba peruntungan. Mastenbroek awalnya lebih memprioritaskan talenta Belanda ketimbang lokal. Namun, pada kenyataannya, kualitas pemain lokal jauh lebih baik dan membuat Mastenbroek menyertakan mereka.
Para pemain lokal yang masuk skuat merupakan mereka yang memiliki darah Jawa, Ambon, Tionghoa, Sumatera, dan Belanda. Tan Mo Heng, Tan Hong Djien, Isaak Pattiwael, Achmad Nawir, Frans Meeng, Sutan Anwar, adalah deretan nama lokal yang memperkuat tim Hindia Belanda kala itu.
“Memang, awalnya ada upaya dari Belanda untuk menghalangi para pemain asli Indonesia masuk ke skuat Timnas saat itu. Tapi, kualitas tak bisa dibohongi. Mereka punya kualitas yang bagus dan akhirnya lolos seleksi,” ujar anak Isaak Pattiwael, Yohannes Pattiwael kepada VIVA.
Dicap Pengkhianat
Akhirnya, ada 11 pemain lokal dan Tionghoa yang masuk skuat Timnas Hindia Belanda saat itu. Tak mudah bagi mereka hidup dalam lingkungan sosial saat memutuskan untuk memperkuat Timnas Hindia Belanda. Pasalnya, masyarakat sempat menilai mereka pengkhianat bangsa karena mau membela panji merah-putih-biru.
Cap pengkhianat yang diberikan terhadap mereka tak membuat semangat para pemain tersebut luntur. “Ya, ketika itu Indonesia belum ada. Hanya merah-putih-biru. Namun, yang patut disorot adalah semangat juang anak-anak bangsa. Mereka mau membuktikan diri, orang Indonesia itu bisa,” ujar Yohannes.
Cuma ada satu semangat dari mereka yang dicap ‘pengkhianat’ oleh pribumi saat itu. Yakni, ingin mengibarkan nama Indonesia di pentas internasional. Dengan bermainnya para pemain asli Indonesia di Piala Dunia, barisan pemain pribumi itu berharap bahwa ada talenta lokal yang memang memiliki kualitas kelas wahid.
“Mereka tak peduli, tak mendengarkan, apa kata orang. Kakek saya tak peduli dengan ucapan orang-orang yang menyebutnya pengkhianat atau apa lah itu. Tapi, kalau beliau dan rekan-rekannya tak ngotot bergabung, apakah ada pribumi yang main di Piala Dunia?” ujar cucu Isaak Pattiwael, John Pattiwael.