- Youtube/FIFA TV
![]()
Sosok Yohannes Pattiwael saat ditemui VIVA di Jakarta. (VIVA/M Ali Wafa)
Masa bodoh, itu yang mereka pilih. Cacian dan segala macam hinaan mereka terima, selama berlatih di bawah arahan Mastenbroek. Dan sepanjang periode tersebut, skema antimainstream, 2-3-5, jadi andalan Mastenbroek.
Skema dua bek, tiga gelandang, dan lima penyerang, memang tak begitu terkenal di masa sekarang. Namun, strategi ini sebenarnya sangat populer sejak abad 19. Namun, pada akhirnya ditinggalkan karena skema 3-2-2-3 lebih berkembang.
Mastenbroek memilih skema ini karena sadar akan potensi yang dimiliki oleh timnya ada di lini depan. Saat itu, kecepatan pemain seperti Isaac dan Tan Hong Djien, memang berada di atas rata-rata dan jadi andalan bagi Indonesia. Formasi ini pun terus dibawa hingga Piala Dunia 1938 di Prancis digelar.
Persiapan di Negeri Tulip dan Cedera yang Bikin Panik
Surat kabar Tionghoa Sin Po menulis, Timnas Hindia Belanda berangkat menuju Eropa pada 18 Maret 1938. Mereka berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok dengan menggunakan kapal MS Johan van Oldenbarnevelt.
Para pemain Timnas Hindia Belanda tak langsung berlabuh di Prancis. Mereka terlebih dulu singgah di Belanda. Pada pertengahan Mei 1938, mereka baru tiba di Negeri Kincir Angin. Hotel Duinoord di kota Wassenaar, jadi kamp mereka selama di Belanda. Selama melakoni pemusatan latihan di Belanda, laporan dari surat kabar Het Volksdagblad, Timnas Hindia Belanda tak cuma dilatih oleh Mastenbroek. Pelatih dari KNVB, Bob Glendenning, turut membantu persiapan mereka.
“Menjadi sebuah kondisi menguntungkan saat pelatih dari KNVB, Bob Glendenning, diperbantukan untuk melatih mereka memahami segala macam taktik dan strategi jelang Piala Dunia,” demikian laporan dari koran Limbursch Dagblad, edisi 28 Mei 1938.
Selain mendapatkan pelatih dari KNVB, Timnas Hindia Belanda juga diberi kesempatan untuk beruji coba dua kali. Ada dua tim yang diketahui menjadi lawan uji coba Timnas Hindia Belanda, HBS Craeyenhout dan Harleem.
Uji coba kontra HBS yang digelar pada 25 Mei 1938, berakhir dengan skor imbang 2-2 (tercatat dalam koran Sin Po edisi 27 Mei 1938). Lalu, partai melawan Harleem berakhir dengan kemenangan Timnas Hindia Belanda, 5-3. Tapi, ada informasi juga yang menyebutkan Timnas Hindia Belanda juga pernah menghadapi Ajax Amsterdam sebelum bersaing di Piala Dunia 1938.