SOROT 509

Petaka di Perairan Indonesia

KM Lestari Maju kandas
Sumber :
  • Facebook @Gabriel Steven

Para nelayan membawa lima penumpang itu ke Pelabuhan Nipayya. Di sana sudah ada ambulans yang menunggu. Lima penumpang yang beruntung itu lalu dibawa ke rumah sakit untuk pendataan. Ansar dan ayahnya, juga sekitar 150 penumpang lain selamat dari kecelakaan mengerikan itu. Namun 39 lainnya tewas.

img_title Banjir Bandang Danau Toba Prapat, 18 Rumah Rusak dan 277 Terdampak

Bukan yang Pertama 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelum kecelakaan KM Lestari Maju, nun di Sumatera Utara, kecelakaan kapal juga terjadi di perairan Danau Toba. KM Sinar Bangun yang melayani jalur penyeberangan di Danau Toba tenggelam akibat hantaman ombak besar. Kelebihan muatan mempercepat kapal oleng dan kehilangan keseimbangan. Ketika akhirnya kapal semakin miring dan tenggelam, tak banyak yang bisa selamat. Sebab, tak ada alat keselamatan yang memadai. Tak ada pelampung, tali, atau sekoci. Hanya 21 penumpang yang ditemukan. Tiga orang tewas, dan 18 lainnya selamat. Namun, 164 penumpang lainnya ikut tenggelam bersama kapal berjenis 35 GT tersebut.

img_title Banjir Bandang hingga Longsor, Kawasan Objek Wisata Danau Toba Ditutup Sementara

Nasib penumpang KM Lestari Maju lebih baik dari KM Sinar Bangun. Ratusan penumpang masih bisa diselamatkan. Sementara ratusan korban KM Sinar Bangun ikut tenggelam bersama kandasnya kapal. Mereka terkubur di dasar danau yang diperkirakan memiliki kedalaman hingga 450 meter. Dengan kedalaman sejauh itu, pemerintah menyerah. Kedalaman danau terlalu membahayakan, dan jika diangkat kondisi korban sudah tak akan utuh lagi.

Parni (55), menangis saat melihat nama anaknya ada dalam daftar penumpang KM Sinar Bangun di posko Pelabuhan Tigaras, Danau Toba, Simalungun, Sumatera Utara. Hingga hari ketujuh pascatenggelamnya KM Sinar Bangun, pihak keluarga terus berdatangan ke posko

img_title KAMMI Nilai Danau Toba Bisa jadi Destinasi Ikonik Unggulan dalam Agenda Mahasiswa Asing

Salah satu keluarga korban KM Sinar Bangun menangis

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Salah satu keluarga korban KM Sinar Bangun adalah Kelvin, remaja berusia 14 tahun. Kelvin tak pernah menduga, bahkan mungkin tak pernah terlintas di pikirannya, keceriaan Hari Raya Idul Fitri berubah menjadi duka mendalam. Hanya dalam sehari, ia menjadi sebatang kara. Ayah Kelvin,  Saputra Handoko (40), ibunya Hawaleni Saragih (35) dan kedua adiknya Fikri Zeriansyah (10), dan Attahyatul Husna (8) ikut tenggelam bersama kapal yang sedianya akan membawa mereka piknik ke Pulau Samosir. Jasad keempat keluarga kandungnya itu terkubur bersama bangkai kapal. Remaja yang duduk di bangku kelas IX sebuah SMP Negeri di Medan itu masih berduka.

Awalnya, Kelvin berkisah, ia bersama kedua orangtua dan adik-adiknya pulang kampung ke rumah keluarga besar ibunya di Kota Pematangsiantar, Jum'at siang, 15 Juni 2018. Selama tiga malam keluarga ini menginap di Pematangsiantar. Senin pagi,18 Juni 2018?, 17 orang keluarga besar ini berangkat ke Danau Toba.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut