- Facebook @Gabriel Steven
Sementara bagi Siswanto, hal utama yang wajib dilakukan untuk menekan angka kecelakaan di perairan adalah merapikan tata kelolanya. Menurutnya, akan lebih rapi jika semua ditarik ke pusat. Ia juga mengusulkan agar pemerintah memberi subsidi agar ada peremajaan kapal. "Tol laut saja bisa disubsidi, masa yang angkut ratusan ribu orang engga disubsidi?" ujarnya mempersoalkan.Â
Siswanto juga mengusulkan dilakukannya gerakan masif untuk keselamatan pelayaran. Dan hal itu harus dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika terjadi kecelakaan. Ia menganalogikan ketika pemerintah mengampanyekan penggunaan helm untuk keselamatan, butuh waktu lebih dari tiga tahun hingga akhirnya publik melakukan dengan kesadaran. Ia mengaku tak bisa menyalahkan masyarakat, apalagi yang berada di pulau-pulau kecil. Karena bagi mereka, hanya itu kapal yang mereka punya, dan kadang hanya ada satu kali dalam seminggu.
Ia menambahkan, ABK kapal yang celaka ini juga kebanyakan ABK kelas 3, bukan kelas 2. Mereka adalah ABK yang memiliki kemampuan berlayar karena belajar dari alam. Karena ABK yang alumni sekolah pelayaran tak akan mau karena gajinya tak setara. Bagi Siswanto, saat ini hanya perlu ketegasan, siapa yang mau mengawasi angkutan pelayaran ini. "Kita bisa meremajakan bajaj dan angkot tapi kenapa kapal tidak bisa?" (mus)
Baca juga
Para Penyelamat di Pusaran Tragedi
Deretan Kasus Kecelakaan di Perairan Indonesia