- ANTARA FOTO/ Reno Esnir
"Partai Garuda hanya mendapat suara 0,2 persen, PSI mendapat suara 0,2 persen dan sebanyak 20,2 persen masyarakat masih tidak tahu dan tidak menjawab,” kata Direktur Charta Politika, Yunarto Wijaya.
Beda dengan tiga partai lain yang dari hasil survei Charta Politika sepi dukungan, Perindo masih mampu merebut angka. Partai besutan Harry Tanoe Soedibjo ini mendapat angka sekitar 5-6 persen.
![]()
Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo mendaftarkan partainya ke KPU
Dengan nol dukungan tersebut, Partai Berkarya dianggap sedang “berjudi” dengan persepsi khalayak luas, terutama menyangkut kekuatan rujukan (reference power) yang diidentikkan dengan kekuatan politik era Soeharto.
Namun, partai ini tak patah arang. Mereka yakin sekali, peluang mereka terletak pada basis-basis pemilih pedesaan yang rindu zaman Soeharto. Meski, hasil survei Charta Politika menunjukkan, persuasi berbasis romantisme masa Soeharto ini tak lagi efektif. Kegagalan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) besutan Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut yang merupakan kakak Tommy menguatkan hasil survei tersebut.
Direktur Eksekutif Voxpol Centre Pangi Syarwi Chaniago menganggap, kerinduan pada mantan presiden terjadi di mana pun. "Apa lagi Soeharto. Kebanggaan dan tentu tidak mau trah Soeharto hilang di kancah politik nasional. Setiap negara itu punya trah atau peradaban. Ketika bapaknya berkuasa, pasti ada kerinduan. Jadi ada kebanggaan untuk meneruskan cerita-cerita kejayaan masa lalu. Bagi mereka, momentum itu ada. Sepanjang bisa mengelola isu tadi, program dan punya figur," ujar Syarwi.
Sekjen Partai Berkarya tak menampik fakta bahwa mereka memang 'menjual' kenangan Indonesia di masa kepemimpinan Soeharto. "Kami memang tidak ragu-ragu dan tidak sungkan-sungkan menyampaikan bahwa nyatanya kami sangat menghormati Pak Harto, Pak Harto adalah simbol, Pak Harto adalah ikon kami, karena di mata kami Pak Harto adalah seorang pemimpin besar pada zamannya," ujar Sekretaris Jenderal Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso.
Berbeda dengan Partai Berkarya yang ingin menjual masa lalu, Partai Solidaritas Indonesia atau PSI tampil lebih segar. Sejak awal deklarasi berdirinya, PSI sudah menetapkan posisi yang jelas dalam marketing politiknya untuk fokus pada anak-anak muda. PSI membidik generasi milenial. Sesuai dengan sasarannya, maka PSI memunculkan tokoh-tokoh muda dengan rentang usia antara 22 hingga 45 tahun. PSI juga aktif merespon isu kekinian dan memanfaatkan media sosial dengan maksimal.