SOROT 511

Cendana Menjual Rindu

Anak-anak mendiang Presiden Soeharto yang populer dengan sebutan Keluarga Cendana.
Sumber :
  • Istimewa

Berkarya rencananya ingin 'menjual' kenangan era Orde Baru. Logo partai ini hampir menyerupai logo partai yang pernah dipimpin Soeharto, Golkar, dengan menampilkan pohon beringin.

img_title Partai Berkarya Tommy Soeharto Menang Banding Melawan Menkumham

Dua putri almarhum mantan Presiden Soeharto, Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto (kiri) bersama Siti Hutami Endang Adiningsih alias Mamiek Soeharto (kanan)

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Poster mantan Presiden Soeharto

img_title Ketika Parpol Kecil di Luar Parlemen Tolak PT 5 Persen

Awalnya, partai itu dipimpin Neneng A. Tutty sebagai ketua umum DPP Berkarya dan Sekretaris Jenderal Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang. Namun belakangan, melalui sebuah Rapat Pimpinan Nasional, Tommy terpilih sebagai ketua umum secara aklamasi. 

Kemudian, setelah berproses, mereka menggandeng Priyo Budi Santoso yang sebelumnya merupakan politikus Golkar dan pernah menjadi wakil ketua DPR sebagai sekjen.

img_title Partai Berkarya Tolak Aturan Ambang Batas Parlemen Berjenjang

Tidak hanya Titiek dan Tommy, anggota keluarga Cendana lain pada akhirnya juga turut bergabung ke Partai Berkarya. Mereka antara lain Siti Hardiyanti Indra Rukmana alias Tutut, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, dan Siti Hutami Endang Adiningsih alias Mamiek.

"Ingin menyukseskan Berkarya di Pemilu 2019. Mas Tommy, Mbak Titiek, Mbak Tutut ingin mengulang romantisme sebagai satu keluarga dengan Berkarya," kata Badarudin Andi Picunang yang kini menjadi ketua DPP Berkarya.

Reformasi Tak Lebih Baik

Dalam acara e-talkshow yang disiarkan tvOne belum lama ini, Tommy berbicara panjang lebar. Dia mengatakan alasan mendirikan Partai Berkarya.

"20 tahun reformasi, tapi tak ada hasil, arah yang didapat menjadi negara yang maju. Maka kami terpanggil. Nyatanya sekarang KKN lebih parah, KKN dan OTT bisa ditanyakan ke KPK, berapa ratus kepala daerah itu kena OTT. Belum lagi korupsi nasional," kata Tommy.

Reformasi, menurut Tommy, tak lebih baik. Kenyataan yang dia lihat penyelundupan narkoba, bila dahulu satu bungkus paling banyak kiloan sekarang justru ton-tonan. "Gimana anak cucu kita akan bisa hidup lebih baik, kita negara Pancasila, kenapa pendidikan Pancasila tak diterapkan di kurikulum nasional," protes dia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Masalah korupsi pun, dia melihat, sekarang jauh lebih parah dibanding masa ayahnya berkuasa. Meskipun dulu belum ada KPK, tapi faktanya ada Kejaksaaan, Kepolisian. "Saya kira, kembali apakah sekarang lebih baik?" tanya Tommy lagi.

Tommy menuturkan, selama 20 tahun ini, bangsa Indonesia tidak pernah tahu secara jelas kapan mereka akan menjadi negara maju, dan masuk era tinggal landas. Dia menyampaikan, dalam membangun rumah perlu rancangan anggaran belanja. Begitu juga rancangan anggaran belanja jangka panjang.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut