- Istimewa
![]()
Ketua Umum Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra
Semasa Orde Baru, masyarakat mengenal Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Tapi sekarang tidak lagi. "Gimana mau bangun negara cuma andalkan APBN, akhirnya kita utang makin banyak kan," katanya.
Partai tempatnya aktif dahulu, Golkar, juga tak luput dari kritik pria kelahiran Jakarta, 15 Juli 1962 itu. Dia menyebut Partai Golkar cuma wadah. Orang-orang yang ada di dalamnya kini sudah jauh dari kepentingan rakyat.
Karena itu, Tommy dan para pendukungnya tidak memaksakan diri untuk merebut. Mereka memilih untuk membentuk partai baru. Keluarga besarnya pun tidak ada yang menyayangkan dia keluar dari Golkar. "Enggak, partai cuma kendaraan, yang penting manusianya. Bagaimana orang peduli ke orang kebanyakan," tuturnya.
Tommy juga membantah dalam membentuk Partai Berkarya, dia menghabiskan banyak uang. Dia hanya butuh semangat masyarakat yang ingin pembaruan, tak perlu membeli orang. Apalagi sekarang orang mayoritas lebih sadar perlu pemimpin yang lebih peduli.
Dia juga menegaskan, Berkarya tidak menjual trah Soeharto, atau adanya partai itu sebagai bentuk dari kebangkitan dinasti Soeharto. Cita-cita mereka adalah mewujudkan ekonomi kerakyatan yang lebih, dari, oleh, dan untuk rakyat. Bagaimana meningkatkan ekonomi mereka. "Sekarang yang nikmati kan minoritas. Bukan kita enggak suka minoritas, tapi cuma perlu lebih adil," ujarnya.
Tommy mengatakan, situasi seperti itu pernah terjadi di masa Orde Baru. Saat ini yang dibutuhkan rakyat adalah pemerataan ekonomi. "GDP (Gross Domestic Product) dipakai barometer yang menikmati siapa? Kelompok tertentu saja yang nikmati, utang Rp4.700 triliun yang tanggung 260 juta rakyat," kritiknya.
Dia meminta angka itu dibandingkan secara objektif dengan Orde Baru. Dulu, katanya, waktu ayahnya laporan pertanggungjawaban di MPR sebelum lengser, utang hanya sebesar Rp150 triliun, sekarang sudah mencapai Rp4.700 triliun.
Tommy yakin Partai Berkarya bisa memperbaiki keadaan itu jika setidaknya masuk tiga besar di Senayan. Namun sejauh ini, dia baru menargetkan mereka mendapatkan satu kursi di satu dapil yang berjumlah 80, atau kurang lebih kuasai 13,9 persen. "Kalau enggak optimis, enggak usah berpartai," katanya.