- Istimewa
Klaim Caleg Mumpuni
Sekjen Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso, membenarkan target mereka adalah meraih 80 kursi di DPR pada Pemilu 2019. Dia tidak peduli bila dianggap sebagai ambisius karena mereka punya hitung-hitungan, kalkulasi, survei sendiri yang tidak mereka publish.
"Tidak kami publikasikan, hanya untuk intern kami, dan kami meyakini 80 kursi DPR RI itu," kata dia saat ditemui VIVA.
Priyo mengungkapkan, bakal caleg partaiya yang lolos dalam seleksi awal berjumlah 575 orang. Angka itu berarti 100 persen, sesuai dengan jumlah kursi yang diperebutkan. "575 orang dengan caleg perempuan rata-rata mendekati antara 35-40 persen," lanjut dia.
Priyo menuturkan, rata-rata para caleg mereka adalah figur-figur yang cukup andal, punya reputasi, rekam jejak atau track record baik, tokoh-tokoh dari berbagai kekuatan politik sebelumnya. Dari Golkar, partai-partai lain, veteran-veteran politik yang pindah haluan partai politik seperti Hanura, PPP, Demokrat, Gerindra, PAN, bahkan dari tokoh-tokoh PDIP juga ada yang bergabung dengan mereka.
![]()
Sosialisasi Partai Berkarya di Cilegon
Untuk merebut vote gatters, mereka juga merekrut sejumlah artis sebagai caleg. Tentunya artis yang mereka nilai punya rekam jejak bagus, mumpuni. Di antaranya, Raslina Rasyidin, Sultan Djorghi, Annisa Trihapsari, Keke Harun, dan beberapa lainnya.
Selain itu, mereka mengusung Tommy sebagai caleg di daerah pemilihan Papua. Priyo maju dari daerah pemilihan Jawa Timur I, Titiek Soeharto sebagai ketua Dewan Pertimbangan maju dari Dapil DIY.
Peluang Terbuka Lebar
Terkait kiprah Partai Berkarya, pengamat politik dan Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, mengakui, bagaimanapun sosok Soeharto dalam sejumlah survei dinilai berhasil memimpin negara. Karena itu, Tommy memakai nama ayahnya itu yang diklaim sebagai ‘Bapak Pembangunan’ sebagai ikon, seorang presiden yang punya jasa terhadap republik ini.
"Paling tidak Tommy dan anak Seoharto lainnya bisa jadi magnet elektoral," kata dia.
Tapi, lanjut Pangi, mereka harus memikirkan strategi-strategi lain. Tidak cukup soal menjual Pak Harto saja. Tentu harus bekerja keras lagi memikirkan isu-isu yang pas, yang mengena, dan diinginkan masyarakat.