- ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Beberapa di antaranya roboh dan menewaskan orang-orang di dalamnya. Lalu yang terbaru, gempa kembali mengguncang Lombok berkekuatan 6,2 SR pada 9 Agustus 2018.
Kala berbincang dengan VIVA, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, bicara Lombok, ada dua kontrol utama terjadinya gempa.
Pada tahun 1800-an, di Lombok dan sekitarnya, terutama di patahan Flores memang pernah terjadi gempa beberapa kali, bahkan sampai menimbulkan tsunami.
Artinya, kondisi alam di sana itu dikontrol oleh patahan naik atau sesar naik Flores. "Itu yang ada di sebelah utara. Yang kedua, dikontrol oleh tumbukan penunjaman lempeng Samudera Hindia yang menghunjam atau menusuk masuk ke arah lempeng Benua Euro Asia di bawah Lombok," ujar Dwikorita.
![]()
Kerusakan akibat gempa di Lombok
Jadi, di sekitar Lombok, ada lempeng Benua Australia, lempeng Asia, serta di sebelah Timur terdapat lempeng Samudera Pasifik. Data-data yang diperoleh BMKG menyebutkan, lempeng-lempeng ini terus bergerak, bahkan ada yang berkecepatan 71 mm per tahun ke arah Euro Asia. Artinya, pergerakan ini mengarah ke lempeng Benua Australia.
Dari pantauan, lempeng Samudera Pasifik juga tidak tinggal diam. Lempeng ini relatif bergerak ke arah Barat Daya dari Timur Laut dengan kecepatan 110 mm per tahun, lebih tinggi dibanding pergerakan lempeng Benua Australia. Jika terjadi tabrakan atau menghunjam, maka lempeng ini akan menusuk ke bawah.
"Dan Lombok masuk di dalam daerah penunjaman itu tadi. Perlu diketahui juga bahwa Pulau Lombok terbentuk karena adanya penunjaman lempengan yang membuatnya muncul ke permukaan," ujarnya menjelaskan.
Bahkan, ia melanjutkan, Pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Lombok, berada di sepanjang tunjaman, di mana pulau-pulau ini terbentuk akibat lempengan yang menunjam ke dalam lempeng Euro Asia. "Jadi, lempengan yang bertabrakan itu seperti tertekuk, sehingga muncullah pulau-pulau itu ke permukaan," tambah dia.
Dengan demikian, kalau berbicara Lombok maka ada dua sumber gempa. Pertama, pergeseran lempengan dari Samudera Hindia yang menyebabkan benturan. Kedua, disebabkan patahan lempengan yang menunjam ke Benua Euro Asia.
Secara keseluruhan, Dwikorita menuturkan Indonesia berada di jalur tektonik karena berada di atas lempengan Bumi, di mana terdapat patahan dan tumpukan. Akibat adanya tumpukan ini akan muncul magma-magma dari perut Bumi yang naik ke atas. Itulah mengapa muncul gunung-gunung berapi.