- ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Ditilik dari masalah kerentanan masyarakatnya, dalam artian kesenjangan antara kemiskinan dan kecukupan, di Lombok lebih tajam ketimbang di Jawa. Hal ini menjadi persoalan tersendiri. "Logistik dan respondennya kalau di Pulau Jawa hari kesekian sudah bisa terdata. Kalau di Lombok mungkin lebih susah lagi," ujar mantan Kepala Kantor Regional Asia Timur dan Tenggara Badan PBB yang mengurusi soal Kemanusiaan (UN OCHA) ini.
Artinya, setiap kasus bencana maka cara penyelesaiannya berbeda-beda. Hanya saja tidak ada batasan excellent atau sempurna dalam menangani bencana. "Botton line-nya apakah sudah direspons atau belum? Tentu sudah direspons," kata dia.
Puji lalu membandingkan karakteristik masyarakat Jepang dan Indonesia, di mana rakyat negeri Matahari Terbit itu lebih tangguh terhadap bencana.
"Saya perhatikan, mereka melihat bencana itu sebagai bagian dari siklus kehidupan. Setiap anak di Jepang itu diberitahu bahwa kalian tidak sedang tinggal di surga, kalian di tempat yang bisa terjadi fenomena alam karena banyak hal," jelas dia.
Dari unsur pemerintahan, Jepang mempunyai kultur melayani. Mereka sadar sebagai mesin administrasi, mesin politik yang dibuat untuk melayani masyarakat.
Ia menyontohkan di Negeri Matahari Terbit itu jika ada jalan rusak, dikerjakan malam, dan paginya tidak ada bekas. "Kalau mereka membongkar bangunan itu dibungkus dahulu dengan plastik sehingga debunya tidak bertebaran." (umi)
Baca Juga