- Kyodo / via REUTERS
![]()
Erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta tahun 2010
Menurut dia, penanggulangan bencana itu bukan visi pinggiran di Indonesia, tapi sentral karena dalam konstitusi disebutkan. Seyogyanya pemerintah bisa duduk bersama dengan seluruh stakeholder untuk melihat ke belakang, apa yang sudah sempurna dan apa yang perlu disempurnakan. Sebab, setiap kejadian bencana bisa menjadi pembelajaran untuk memperbaiki respon penanggulangan bencana.
"Lalu buat mekanisme sebagai pembelajaran umum sehingga masyarakat juga terlibat di dalamnya," ujarnya menambahkan.
Jadi seperti juga ujian negara, seperti pengamanan Asean Games, sesudah penanggulangan bencana berakhir itu sebaiknya ada proses pembelajaran dan ada perubahan-perubahan yang mendasar yang membuat penanganan bencana berikutnya menjadi lebih baik. Mekanisme ini bisa dibuat sebagai pembelajaran umum sehingga masyarakat juga bisa terlibat di dalamnya.
Puji juga merujuk pada kultur masyarakat negeri ini. Indonesia sudah punya kultur yang bagus sebetulnya, yaitu gotong royong. "Dulu istilah itu sering kali kita dengar, dan sekarang itu semangat gotong royong itu bisa dikatakan sudah hampir hilang. Jadi menurut saya semangat itu harus dihidupkan lagi mungkin dengan cara yang baru," ujar mantan Kepala Kantor Regional Asia Timur dan Tenggara Badan PBB yang mengurusi soal Kemanusiaan (UN OCHA) ini.
Menurutnya, masyarakat perlu digugah kesadarannya, perlu awas, waspada dan siap untuk menghadapi bencana. Fenomena alam seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir, longsor itu, sebenarnya hanya masalah waktu dan kapasitas saja. Kapan bencana itu akan datang? Kapasitasnya seberapa besar atau seberapa buruk bencana? Sebab bencana pasti terjadi, tapi kapan waktu pastinya dan seberapa buruk dampaknya tak bisa ditentukan.
Melibatkan masyarakat bisa dimulai dalam pembahasan perencanaan tingkat lokal. Entah itu perencanaan kontingensi atau perencanaan pembangunan lainnya. Musyawarah Pembangunan atau Musrembang tingkat desa, kecamatan, tingkat kabupaten itu mempunyai unsur penanggulangan bencana. Jika saja dalam masyarakat tingkat lokal sudah memuat bahasan tentang kondisi fisik sebuah wilayah, kondisi alam, potensi terjadinya bencana, maka kemampuan untuk melindungi segenap warga di tingkat provinsi, kabupaten, atau desa menjadi lebih maksimal.Â