Geliat Muslim Eropa, Semangatnya Mendunia

Masjid Agung Brussels, Belgia
Masjid Agung Brussels, Belgia
Sumber :
  • REUTERS/Yves Herman

VIVA – Berdarah Turki, Hanife Karakus adalah putri pasangan suami istri pendatang alias imigran, yang hijrah ke Prancis lebih dari tiga puluh tahun silam. Sebagian besar masa hidupnya ada di Eropa. Tapi Hanife masih bisa berbahasa bawaan orangtuanya, Turki.

Dia kini menjadi wanita karier di Prancis, salah satu negara terkemuka di Benua Eropa. Hanife karena itu mengidentifikasikan diri sebagai seorang pengacara asal Prancis.

Meski demikian, atribut keagamaan maupun kultural belum sepenuhnya hilang dari penampilan perempuan  berdarah Turki ini. Dia masih terbiasa menutup kepalanya dengan selendang maupun kerudung sehelai meski tak ditutup rapat. Cenderung kerudung dibandingkan jilbab atau yang sekarang biasa disebut hijab.

Hanife bercerita bahwa hidup di Eropa membuatnya bisa andil dalam menentukan nasib sendiri termasuk soal pendidikan, dia memilih bidang hukum. Pula perjodohan. Dia tak lagi wajib ikut dalam rencana perjodohan yang diatur keluarga. Hanife bisa memilih sendiri calon pasangan hidup.

Dia menikah dengan pria pilihannya. Mereka bahkan bertemu melalui sebuah situs di internet tanpa ada campur tangan kerabat dalam pertemuan itu. Setelah menikah, Hanife lanjut berkarier. Dia bahkan menjadi pemimpin salah satu dari 25 Dewan Islam Regional di Prancis dan posisinya membuat dia banyak berhubungan dengan pria muslim di Prancis dalam konteks profesional.

Hanife mengakui, meski sudah berada di negara sekuler namun tak semua pria Muslim mudah menerima wanita sebagai pemimpin maupun rekan kerja. Namun, seiring waktu berlalu, dia bisa diterima sebagai salah satu pentolan di Dewan tersebut.

“Awalnya bahkan ada pria yang tak mau bicara dengan saya mungkin karena merasa tidak nyaman atau tak tahu harus bagaimana berbicara kepada seorang wanita,” kata Hanife tersenyum, dikutip dari The New York Times.