- ANTARA FOTO/Akbar Tado
Firman sempat tergulung ombak tsunami selama beberapa kali. Bahkan anak yang ia gendong akhirnya terlepas. Di tengah kekuatan ombak, ia terus berusaha menyelamatkan diri. Bripda Arif lebih beruntung. Ia tak sempat bertemu gulungan ombak. Gempa terjadi ketika ia hendak berwudhu. Bripda Arif sempat terjatuh, begitu pula orang-orang di sekitarnya. Ketika guncangan berhenti ia mendengar teriakan untuk menjauhi pantai. Ia lalu berlari, tanpa sempat kembali memakai sepatunya. Ia menuturkan, kakinya sempat luka dan berdarah, ia bahkan jatuh ke parit karena gempa masih tetap terasa. Namun ia berusaha terus berlari dan menjauh dari pantai.
Ia memastikan, saat kejadian, pantai sangat ramai karena menjelang upacara pembukaan festival. "Sangat banyak orang saat itu di pantai. Karena acara Festival Palu Nomoni berpusat di sekitar pantai. Sepertinya ada ratusan orang di pantai," ujarnya saat diwawancara oleh Karni Ilyas dalam acara Indonesia Lawyers Club di tvOne. Dengan perjuangan berat, Firman dan Bripda Arif berhasil selamat.
Lemahnya Deteksi Dini
Dampak kerusakan akibat gempa dan tsunami di wilayah Palu dan Donggala luar biasa menghancurkan. Sehari setelah gempa dan tsunami, publik dihamparkan berbagai video amatir yang merekam detik-detik tsunami menyapu pantai Tallase, Palu. Bangunan yang hancur, jalanan yang terbelah, dan kendaraan yang jungkir balik menjadi saksi betapa derasnya hempasan ombak.
Hari berikutnya, video lain beredar. Kali ini seperti yang diceritakan oleh Ihsan, yaitu tentang tanah seperti lumpur yang bergulung dan melumat habis apa saja yang berada di atasnya. Likuifaksi, begitu nama yang akhirnya muncul. Ngeri, tanah bergerak begitu cepat dan menelan pepohonan, rumah, masjid, dan semua orang yang berada di atasnya.
Hari ini, 6 Oktober 2018 atau sepekan setelah gempa, Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB merilis jumlah korban. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkap, jumlah korban meninggal dunia gempa Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah sudah mencapai 1.571 orang. Mayoritas korban tewas ini ditemukan di Kota Teluk, Palu.