SOROT 521

Berdamai dengan Bencana

Warga berada di dekat kapal TNI AL yang terdampar di jalanan akibat tsunami di Watusampu, Ulujadi, Palu, Sulawesi Tengah, 3 Oktober 2018.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Akbar Tado

"Sebanyak 1.571 korban meninggal dunia. Rinciannya 144 di Donggala, 1.351 di Palu, 62 di Sigi, 12 di Moutoung, dan 1 orang di Pasang Kayu," kata Sutopo di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Jumat, 5 Oktober 2018. Jumlah korban diperkirakan masih bisa bertambah karena masih banyak yang dilaporkan hilang dan diperkirakan terkubur.

img_title Israel Dihantam 'Tsunami'

Warga mencari korban gempa dan tsunami yang tewas di RS Bhayangkara, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu, 30 September 2018.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Korban tewas gempa dan tsunami di Sulteng

img_title Badan Geologi ESDM Waspadai Potensi Likuefaksi dari Gempa NTT, Ini Pertandanya

Besarnya jumlah korban membuat tudingan langsung mengarah ke Badan Metereologi dan Geofisika atau BMKG. Sebab, lembaga ini sudah merilis informasi terjadinya gempa dengan magnitudo mencapai 7,7 pada Skala Richter dan berpotensi tsunami. Tapi, tak sampai 30 menit, BMKG mengakhiri peringatan tersebut. Kabarnya, hanya beberapa menit setelah BMKG mengakhiri informasi potensi tsunami, gelombang ganas itu dikabarkan menerjang Palu.

Dihentikannya peringatan dini tsunami dianggap membuat warga sekitar tak menyiapkan diri untuk evakuasi. Padahal pantai sedang sangat ramai karena sudah masuk waktu persiapan pembukaan Festival Palu Nonomi. BMKG dianggap gagal mencegah bencana.

img_title BMKG: Gempa Magnitudo 6,4 di Simalungun Tidak Berpotensi Tsunami

Namun BMKG membantah. Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono membantah BMKG gagal. Menurutnya, BMKG sudah menjalankan tugas mereka dengan menyampaikan kabar bahwa gempa yang terjadi berpotensi tsunami. "BMKG sudah memberikan peringatan tsunami dan BMKG mengakhiri peringatan setelah tsunami berakhir. Dinyatakan gagal itu kalau sama sekali tidak mengeluarkan peringatan dini tsunami," ujar Daryono di kantor BMKG, pada Kamis, 4 Oktober 2018.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Dwikorita Karnawati, juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, keputusan mengakhiri peringatan dini tsunami pasca-gempa di Sulawesi Tengah yang dilakukan BMKG sudah tepat. Ia menjelaskan, pengakhiran peringatan dini tsunami berlangsung pukul 18.37 WITA atau pukul 17.37 WIB, di mana kabar pengakhiran peringatan dini tsunami di Palu tersebar di Jakarta.

Ia menambahkan, saat pengakhiran peringatan dini tsunami dilakukan, staf BMKG di Palu  mencatat ketinggian permukaan air di Pelabuhan Pantoloan sudah tinggal 30 cm. Jika tsunami masih terjadi setelah itu, harusnya staf BMKG yang mengukur ketinggian air bisa kembali tersapu tsunami.

"Nyatanya staf kami masih hidup sampai sekarang," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati Bicara Gempa Lombok

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut