SOROT 521

Berdamai dengan Bencana

Warga berada di dekat kapal TNI AL yang terdampar di jalanan akibat tsunami di Watusampu, Ulujadi, Palu, Sulawesi Tengah, 3 Oktober 2018.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Akbar Tado

Ia hanya menyayangkan proses mutasi Ketua BPBD yang menurutnya kerap tak menempatkan orang yang tepat. "Selayaknya, Ketua BPBD juga orang yang paham bencana dan paham wilayahnya. Sehingga proses penyelamatan jika terjadi bencana bisa lebih cepat," ujarnya.

img_title BMKG Pastikan Tak Ada Indikasi Tsunami Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau

Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia MPBI Tuan Dandi Prasetia

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketua Umum MPBI Dandi Prasetia

img_title NTT Diguncang Gempa 5 Magnitudo

Menurut Dandy, hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah konstruksi gedung-gedung dan rumah di Indonesia. "Saya pernah datang ke Nias, di sana ada sekolah yang tiang benderanya didirikan persis di depan pintu kelas. Itu kan berbahaya. Jika terjadi gempa, dan murid harus lari ke luar kelas dan berebut, mereka bisa membentur tiang," ujarnya.

Ia juga merujuk banyak bangunan yang struktur bangunannya tak mempertimbangkan bencana. Menurut Dandy, pemerintah punya peran besar untuk mengawasi konstruksi bangunan agar ketika terjadi bencana, bangunan tak malah menewaskan penghuninya.

img_title Pemerintah Minta Masyarakat Tak Termakan Isu Tsunami Buntut Erupsi Anak Krakatau

Tapi Patra Rina Dewi memiliki sudut pandang yang berbeda dengan Dandy. Menurut Patra, di Indonesia, saat ini pengarusutamaan pengurangan risiko bencana belum menjadi prioritas utama. Dalam artian, proses pembentukan ide, gagasan dan nilai yang dapat diterima luas oleh masyarakat belum terbentuk semaksimal mungkin.

Minimnya mitigasi bencana, dan kurang sadarnya masyarakat yang tinggal di zona rawan kebencanaan, membuat angka kematian tinggi. Mengingat potensi kerawanan sangat tinggi, Komunitas Siaga Tsunami yang ia pimpin berharap mitigasi bencana dapat ditingkatkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Makanya, ujar Patra, dalam edukasi Kogami selalu menekankan kepada masyarakat agar menjadikan gempa sebagai peringatan dini dalam mengambil keputusan evakuasi. "Untuk di pesisir Sumatera Barat, kami edukasi bahwa jika gempa terasa lama (terus menerus 30 detik atau lebih) apalagi kuat, membuat limbung, maka segera evakuasi setelah gempa berhenti tanpa harus menunggu informasi dari manapun. Evakuasi menjauhi pantai sejauh 3 kilometer atau ke bangunan tinggi atau ke bukit dengan ketinggian lebih dari 12 meter," ujarnya.

Ia lalu mengingatkan tentang kearifan lokal tentang menghadapi bencana. "Ada sebagian daerah yang punya kearifan lokal seperti Smong di Pulau Simeuleu dan di daerah lain yang belum tergali dengan baik. Mungkin ada, tapi sampai saat ini saya belum mendapatkan informasi tentang daerah lain selain Simeulue. Ketika terjadi gempa di Aceh yang berujung tsunami, warga yang sudah sering didendangkan syair Smong," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut