- Mitra Angelia
![]()
KH Hasyim Asy’ari
Manifesto perang suci segera mengobarkan semangat perlawanan umat Islam di Jawa. Didukung oleh Tentara Keamanan Rakyat dan tentara nonreguler, Hisbullah dan Sabilillah, yang terdiri atas laskar kiai dan santri didikan Peta (Pembela Tanah Air). Arek-arek Surabaya bersama tokoh utamanya Sutomo alias Bung Tomo kian bergelora dengan seruan jihad itu, setelah terbukti pasukan Sekutu dan NICA benar-benar mendarat di Surabaya secara berangsur sejak 25 Oktober hingga 1 November 1945.
Diawali pertempuran-pertempuran kecil, dan seorang brigadir jenderal Inggris, AWS Mallaby, tewas dalam baku tembak pada 30 Oktober. Meletuslah pertempuran besar pada 10 November 1945.
Mayor Jenderal EC Mansergh sebagai pemimpin kapal perang Sekutu memperkirakan kota Surabaya jatuh dan takluk dalam tempo tiga hari. Tetapi perkiraan itu meleset. Sejarawan Agus Sunyoto, mengutip William H Frederick, menyebut peristiwa itu sebagai pertempuran paling nekat dan destruktif —yang tiga pekan di antaranya— sangat mengerikan jauh di luar yang dibayangkan pihak Sekutu maupun Indonesia.
Oposisi Kaum Sarungan
Pertempuran yang menewaskan 6.000-16.000 pejuang Indonesia dan 600-2.000 serdadu Inggris-India itu tak hanya dipandang sebagai perjuangan rakyat demi pembebasan dari penjajah. Lebih dari itu ialah titik balik perlawanan muslim Indonesia, terutama kalangan santri, sepanjang eksistensinya di Nusantara sejak abad kedelapan belas.
Salah satu komponen penting dalam Pertempuran 10 November ialah laskar Hizbullah, yang secara harfiah bermakna tentara Allah. Tentara nonreguler yang dibentuk pada 15 Desember 1944 itu hasil prakarsa Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), federasi organisasi-organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Islam (Persis), al-Wasliyah, dan lain-lain.
Pembentukan Hizbullah adalah siasat para ulama atas pemerintah pendudukan Jepang agar kalangan muslim santri memiliki pasukan, sebagai cadangan Peta, untuk membantu Jepang. Andree Feillard, dalam NU vis a vis Negara; Pencarian Isi, Bentuk dan Makna, menyebut peran penting Wahid Hasyim, putra Hasyim Asy’ari, dalam pembentukan Hizbullah. “... Wahid Hasyim berhasil membujuk Jepang untuk memberikan latihan militer khusus bagi para santri dan mengizinkan mereka membentuk barisan pertahanan rakyat: Hizbullah dan Sabilillah”.