- Mitra Angelia
![]()
Pertempuran 10 November di Surabaya
Pada dasarnya, menurut sejarawan Johan Wahyudi pada Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Pertempuran 10 November lebih dari sekadar perang, tetapi menandai titik baru kedudukan oposisi kalangan santri terhadap kolonialisme sepanjang sejarah modern Indonesia. “Santri merupakan garda depan yang menggalang perlawanan terhadap kolonial Belanda,” katanya kepada VIVA pada Kamis, 18 Oktober 2018.
Johan merujuk sejarah panjang perlawanan muslim pribumi dalam pemberontakan-pemberontakan yang dipelopori kaum santri. Contoh, Perang Padri di Sumatera Barat (1821-1828) yang dipelopori Imam Bonjol; Perang Jawa (1825-1830) di bawah komando tertinggi Pangeran Diponegoro; pemberontakan atas kebijakan tanam paksa di Banten (1836, 1842, 1849, 1880, dan 1888); pemberontakan di Aceh (1873-1904) dengan dua pemimpin utamanya, Teuku Umar dan Teuku Cik Di Tiro.
Menurut Hermawan Sulistyo, Perang Jawa, perang terbesar dalam sejarah peperangan rakyat melawan penjajahan di Nusantara, tidak digerakkan dari kerajaan tetapi pesantren Tegalrejo di Magelang, Jawa Tengah. Sementara itu, berdirinya pesantren pada abad kedelapan belas hingga abad kedua puluh, yang berada tidak jauh dari pabrik-pabrik gula Belanda, menurut Benedict Anderson, selalu merupakan resistensi dan oposisi langsung terhadap kolonialisme. Pesantren juga menjadi tempat penggemblengan para satria kelana yang kelak memelopori berbagai pemberontakan.
Fatwa jihad atau perang suci yang diserukan Hasyim Asy’ari sebelum Pertempuran 10 November itu bukanlah yang pertama. Jauh sebelum itu, seorang ulama terkemuka di Palembang, Syekh Abd al-Shamad al-Palimbani (1704-1789), menulis sebuah kitab berbahasa Arab tentang keutamaan jihad, Nashihah al-Muslim wa-Tadzkirah al-mu’minin fi-Fadhail al-Jihad fi-Sabilillah wa-Karamah al-Mujahidin fi-Sabilillah. Dia menjelaskan dalam kitabnya itu, wajib bagi kaum muslim untuk berjihad melawan kaum kafir—penjajah Belanda.
Menurut cendekiawan Azyumardi Azra, mengutip orientalis Snouck Hurgronje dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, karya Syekh Abd al-Shamad menjadi sumber rujukan utama berbagai karya mengenai jihad dalam Perang Aceh. Kitab itu menjadi model imbauan agar kaum muslim berjuang melawan kaum kafir.
Azra mencontohkan pula Syekh Yusuf al-Maqassari (1627-1629), ulama asal Gowa, Sulawesi Selatan, yang lalu pindah ke Banten dan diangkat menjadi mufti oleh Kesultanan Banten. Syekh Yusuf tidak hanya menulis kitab-kitab keagamaan, tetapi juga memimpin pasukan melawan penjajah, sebagian di antaranya ratusan santrinya asal Makassar.