SOROT 526

Kisah Serdadu 'Al-Maun' di Lombok

Kegiatan Muhammadyah Disaster Management Center (MDMC) Indonesia untuk bencana alam di Palu
Sumber :
  • Twitter.com/@MDMCIndonesia

Di tempatnya bertugas, nyaris tak ada bangunan baik rumah warga maupun tempat ibadah serta fasilitas umum yang masih utuh. Semua rusak berat. Lombok Utara merupakan wilayah terdampak paling parah akibat gempa bumi. Di kabupaten ini 467 warganya meninggal dunia.

img_title MT Mauhau Serahkan 16 Korban Virgo Transport 8 kepada Basarnas, Tuntaskan Misi Kemanusiaan

"Kondisi itu membuat warga harus mendirikan tenda-tenda di sekitar rumah mereka untuk tinggal sementara," kata Joko.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tim relawan langsung kerja keras, dengan segenap kemampuan dan keahlian masing-masing. Mulai dari membangun fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK), membersihkan puing-puing reruntuhan gempa, dan membangun tempat tinggal darurat.

img_title Ustaz Adi Hidayat Ajak Taubat Nasional, Introspeksi Diri di Tengah Banyak Bencana Alam

Tak hanya itu, banyak pula relawan yang sigap memberi pemeriksaan dan pengobatan medis, sampai memberikan pendampingan psikososial terhadap warga yang terdampak. Itu sebabnya para warga merasa beruntung dapat perhatian dari para relawan.

Siang dan malam terus membantu, tim relawan pun merekam jelas sejumlah kisah pilu lainnya. Seperti yang disampaikan seorang fotografer kebencanaan MDMC, Pepi Perdiansyah.

img_title Biadab! Bantuan Kemanusiaan di Jalur Gaza Tak Sampai ke Masyarakat karena Dihalangi Israel

Kegiatan Muhammadyah Disaster Management Center (MDMC) Indonesia untuk bencana alam di Palu

Aktivitas MDMC di lokasi bencana

Sejak pertengahan Agustus lalu Pepi sudah berada di lokasi bencana gempa Lombok. Sebagai relawan kebencanaan, Pepi selalu terlibat untuk mengabadikan tiap peristiwa pasca-bencana.

Pada 1 September lalu, Pepi bertemu seorang guru pegawai negeri sipil, Junaidi namanya. Junaidi merupakan kepala rumah tangga bagi keluarga kecil. Dia juga bekerja sampingan menjadi peternak ayam petelur.

Usai gempa melanda, seluruh hartanya sirna. Beruntung sang istri Kartini dan kedua anaknya Abdul Hafidz dan Maula AlKholifi selamat. "Rumahnya rata dengan tanah, tak menyisakan tiang satupun," kata Pepi.

Kondisi Junaidi, diceritakan, langsung berubah 180 derajat. Peternakan yang semula dikelola hancur tak berbekas. Hanya gelar guru yang melekat saat semua harta bendanya lenyap.

Di saat itulah, kata Pepi, dia bersama sejumlah rekan relawan lain memberi bantuan dan yang terpenting, semangat untuk tetap hidup. Pepi sadar, saat itu mereka sangat membutuhkan dukungan.

Hingga akhirnya ketulusan para relawan mampu membekas hebat di relung hati para korban bencana gempa termasuk Junaidi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pelita Bencana

Kisah Junaidi serta warga korban bencana merupakan sketsa kecil yang acap ditemui para relawan MDMC. Bukan kali ini saja mereka terjun ke lokasi bencana, sebab sepak terjangnya sebagai lembaga kemanusiaan sudah lama dilakukan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut