- VIVA/Nur Faishal
"Mereka harus disclose dan transparan, ini kolaborasi, ini postingan sponsor, ini adverstising, partnership dan lainnya," kata dia.
Matang dan teredukasi
Lepas dari noda influencer yang masih terseret produk ilegal, Rade melihat industri influencer di Indonesia saat ini sudah berjalan makin matang.
Pengguna media sosial kini banyak yang mengerti dan punya kesadaran tinggi bahwa platform digital kini bisa menjadi sumber penghasilan. Bahkan profesi konten kreator, YouTuber sampai influencer sudah ada pada memori cita-cita anak kecil era saat ini.
Industri yang makin teredukasi ini memberi dampak ragamnya produk dan kategori yang masuk dalam tren bisnis endorse. Rade mengatakan, dua tahunan lalu, baru brand besar yang eksploratif masuk ke industri influencer dan marketing, brand skala menengah dan kecil belum tergerak untuk menjejaki cara baru promosi produk tersebut.
Nah saat ini,sudah banyak bisnis yang sadar dengan endorse media sosial dan digital dengan melibatkan influencer untuk mempromosikan produk dan jasa mereka.
"Memang ada perubahan itu, pasar influencer kini lebih teredukasi. Kalangan marketer tahu bisnis endorsement merupakan channel marketing dan channel powerful di era sekarang," tuturnya.
![]()
Memasarkan produk di social media
Soal tarif, tren saat ini menurut Rade tak jauh berbeda dengan dua tahunan lalu, masih mirip-mirip. Kalaupun ada perubahan tarif dari influencer tertentu, dinamika itu merupakan dampak otomatis peningkatan jumlah follower dari pesohor atau selebgram. Rade mengatakan secara rasio, tarif influencer saat ini dengan dua tahunan lalu tak berubah signifikan.
Dari sisi demografi, Rade mengungkapkan, saat ini mayoritas influencer merupakan generasi milenial dan generasi Z dengan rentang usia 20-35 tahunan. Uniknya dari sisi kategori pria dan wanita, data SociaBuzz menunjukkan selebgram sampai blogger didominasi oleh kaum hawa, sedangkan untuk YouTuber masih didominasi kaum pria, meski jumlah YouTuber cewek terus meningkat.
Jika dilihat dari sisi bisnis, industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG), elektronik, travelling, hotel sampai perbankan makin memanfaatkan jasa influencer.
"Hampir semua industri B2C (business to consumer) pakai influencer. Nyaris semuanya  pakai. Kalau industri B2B (business to business) agak jarang pakai karena mereka korporasi ya targetnya. Mereka targetnya companies yang lebih direct approach-nya," katanya.