SOROT 531

Bumerang Selebgram

Gelar perkara kasus kosmetik endorse artis di Surabaya, Jawa Timur
Sumber :
  • VIVA/Nur Faishal

Jejaring media sosial makin cocok untuk endorse. Sebab kata Nukman, kaum milenial hobi mengikuti atau menjadi follower akun para influencer di Facebook, Twitter maupun Instagram.

img_title Tanpa Modal Besar, Ini 7 Bisnis Online yang Bisa Dimulai dengan HP

Telepon - smartphone - mobile phone - hp - gadget - internet - generasi milenial

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Generasi milenial dan gadget

img_title Analis Ungkap Peran Penting Influencer Marketing dalam Pengembangan Bisnis

Sisi kekuatan media sosial ini tak lepas dari pengamatan artis atau pesohor. Mereka yang pada dasarnya sudah banyak penggemar maka tak heran punya follower ratusan atau jutaan dalam platform digital mereka. Belakangan ketika tren endorse muncul di media sosial, artis juga memanfaatkan momentum tersebut, mereka menyambut gaung mempromosikan brand tertentu di akun media sosial mereka.

Bahkan, bila diamati, Nukman mengatakan, tren endorse atau promo produk sudah dijejaki oleh kanal televisi. Saluran media konvensional ini berlomba-lomba menarik pemirsa lewat akun media sosial mereka.

img_title 3 Poin Penting untuk Sukses Sebagai Influencer Marketing

Sayangnya, momen aji mumpung mendapatkan uang cukup dengan cuap-cuap dan testimoni sebuah produk di akun media sosial ini, tak selalu diiringi dengan ketelitian dan seleksi. Makanya muncul kasus endorse kosmetik ilegal tersebut.

Kepala Eksekutif SociaBuzz, Rade Tampubolon mengakui, brand palsu atau ilegal menjadi salah satu isu penting dalam industri influencer. Sebab, jelas brand atau produk yang ilegal tak terjamin kualitasnya dan merugikan konsumen.

Rade menilai, influencer kian hari terus muncul. Tapi sayangnya tak semua influencer itu teredukasi dalam menilai produk. Influencer menutup mata soal kualitas dan kesahihan produk yang dipromosikan, dan lebih mementingkan duit atau uang yang didapatkan.

"Ini menjadi tantangan tersendiri dengan adanya industri influecer. Belum semua teredukasi," ujarnya.

Dalam pengamatan Rade, influencer yang tak selektif itu umumnya terjadi pada mereka yang relatif belum terkenal. Influencer yang sudah punya nama, kata Rade, terbilang selektif sebelum memutuskan untuk mempromosikan brand atau produk di akun media sosial mereka.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Influencer terkenal umumnya akan melakukan riset, apakah produk sudah tersertifikasi BPOM atau belum, bagaimana kualitas produk, sampai mengecek pendapat orang lain atas produk yang bakal dipromosikan.

"Jadi enggak sembarangan juga. Sebab bisa menjadi backfire. Kalau produk nggak bagus atau jelek juga bisa berdampak bagi dia. Image dia menjadi jelek di mata follower dan masyarakat," ujarnya menjelaskan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut