- VIVA
Gempa Lombok menimbulkan trauma mendalam bagi warga NTB. Sebab, pasca gempa besar yang terjadi Juli hingga Agustus, warga masih dihantui gempa-gempa susulan dengan magnitudo yang beragam. BMKG mencatat, ribuan gempa susulan terjadi sampai September 2018. Warga ketakutan kembali ke rumahnya, dan memilih tinggal di lokasi pengungsian.
Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, secara analisa tektonik di Lombok memang wilayah rawan gempa bumi. Sebab, posisi Lombok terletak di antara dua pembangkit gempa, yang dijuluki dengan seismik aktif.
Dua pembangkit gempa ini berasal dari selatan dan utara. Di selatan terdapat zona subdiksi lempeng Indo-Australia yang menujam ke bawah Pulau Lombok. Sedangkan dari utara ada struktur geologi bernama Sesar Naik Flores atau Flores Bacj Arc Thrusting. Sesar Naik ini, jalurnya memanjang dari Laut Bali ke timur hingga Laut Flores.
"Sehingga, tidak heran jika Lombok memang rawan gempa, karena jalur Sesar Naik Flores ini sangat dekat dengan Pulau Lombok," kata Daryono dalam siaran resminya.
Kerusakan dan kerugian yang diakibatkan gempa sangat besar. Kepala BNPB Willem Rampangilei menyebut kerugian gempa Lombok mencapai Rp12,15 triliun. Angka itu mencakup kerusakan bangunan sebesar Rp10,15 triliun dan kerugian ekonomi sebesar Rp2 triliun. Sektor permukiman adalah penyumbang terbesar dari kerusakan dan kerugian akibat bencana yaitu mencapai 81 persen.
Tapi, dari rentetan peristiwa bencana alam yang terjadi di 2018, gempa bumi yang disertai tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah yang paling menelan banyak korban. Meskipun terjadi hanya sekali, peristiwa itu menyebabkan 3.397 orang meninggal dunia, 4.426 orang luka-luka, 221.450 orang mengungsi dan terdampak, dan 69.139 unit rumah rusak berat.
Gempa bumi 7,4 SR mengguncang Palu, Donggala, Sigi dan Parimo, Sulawesi Tengah, yang diikuti tsunami yang melanda pantai barat Pulau Sulawesi, Indonesia, bagian utara pada tanggal 28 September 2018, pukul 18.02 WITA. Di Kota Palu, tsunami yang dipicu karena gempa tingginya mencapai 5 meter.
Pusat gempa berada di 26 km utara Donggala dan 80 km barat laut kota Palu dengan kedalaman 10 km. Guncangan dirasakan di Kabupaten Donggala, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Mamuju bahkan hingga Kota Samarinda, Kota Balikpapan, dan Kota Makassar.