- VIVA/Tim Desain
Kekhawatiran Jadi Kenyataan
Kekhawatiran publik sepakbola Indonesia akan terbelahnya fokus Edy dalam memimpin PSSI akhirnya menjadi kenyataan. Pria berusia 57 tahun itu tak mampu lagi melakukan kontrol seperti sebelumnya.
Semuanya menjadi berbeda ketika saat dia masih aktif sebagai Pangkostrad. Ketika itu, hampir seluruh anggota PSSI, baik Asosiasi Provinsi (Asprov) juga klub selalu patuh terhadap keputusan yang diambil.
Lewat media sosial, publik menggemakan tagar #EdyOut. Desakan itu muncul dengan banyak alasan lagi, termasuk adanya berbagai kontroversi di kompetisi berbagai strata.
Dalam beberapa polemik, Edy terlihat mencoba untuk berdamai dengan publik. Salah satunya terkait masalah perpanjangan kontrak Luis Milla Aspas sebagai pelatih Timnas Indonesia usai gagal mencapai target empat besar Asian Games 2018.
Memimpin rapat Exco, ketika itu, Edy didukung suara beberapa anggota memutuskan untuk memperpanjang kontrak pelatih asal Spanyol tersebut. Anggapan publik permainan Timnas Indonesia lebih baik di bawah arahan Milla menjadi alasan utama.![]()
Tapi, penolakan juga diajukan beberapa Exco lainnya. Sebuah kejadian yang tidak biasa ketika Edy masih menjadi Pangkostrad. Alasan beberapa orang menolak karena menganggap gaji Milla terlalu besar, sehingga nantinya malah menyulitkan PSSI.
"Dalam rapat (ketika) itu, kan saya yang bersikap keras. Karena kita ini kan tidak bodoh. Kita tahu standarisasi honor dan gaji (pelatih) baik di Asia Tenggara atau Asia. Tapi, kan ada unsur politis di sana, karena Menpora sudah bicara, netizen juga, ya kita sebagai organisasi memutuskan bahwa kontrak Milla diperpanjang," ujar salah satu anggota Exco PSSI, Yunus Nusi, kepada VIVA.
Benar saja, beberapa bulan setelah keputusan perpanjangan kontrak disetujui, Milla akhirnya batal kembali melatih. Tidak jelas alasan yang dikemukakan oleh para petinggi PSSI lainnya, tapi yang sering diucapkan adalah penawaran baru dalam kontrak tidak kunjung mencapai kata sepakat.
Terpaan terhadap PSSI kepemimpinan Edy seolah tak pernah berhenti sepanjang tahun. Kegagalan Timnas Indonesia lolos dari fase grup Piala AFF ditambah isu pengaturan skor di Liga 1 dan Liga 2 menyusul di kemudian hari.
Sialnya lagi, isu pengaturan skor melibatkan dua anggota Exco, Hidayat dan Johar Lin Eng. Noda baru yang menambah daftar buruknya PSSI saat ini di mata publik.