- VIVA/Tim Desain
"Komite lain sih tidak ada masalah. Bahkan, komite pengembangan kemarin mendapat pujian dari FIFA. Komite media juga kita sering mengadakan pertemuan dan diskusi. Sepakbola wanita juga ada prestasi," imbuhnya.
![]()
Merujuk kontroversi yang kerap ditimbulkan oleh komite disiplin dan wasit, Yoyok mengatakan memang wajib untuk dicari jalan keluar. Kongres Tahunan PSSIÂ pada Januari 2019 di Bali jadi momen yang tepat untuk membicarakannya.
Salah satu yang ada dalam pikirannya saat ini adalah membenahi isi kode disiplin. Peraturan yang ada di dalamnya harus dibuat lebih rinci lagi agar kelak ketika Komdis PSSI mengeluarkan keputusan tidak ada lagi pertanyaan kritis.
"Dengan 2018 yang banyak bertanya-tanya soal Kode Disiplin itu isinya apa. Jadi tahun depan kami Komite Eksekutif akan buat yang untuk pegangan federasi dan operator kompetisi nanti akan lebih detail lagi. Misal untuk lemparan, akan kita jabarkan lagi apakah itu mercon, botol air mineral, atau batu," tuturnya.
Selama ini seharusnya keputusan Komdis PSSI tidak perlu jadi pertanyaan. Perbedaan hukuman yang diterima masing-masing klub dikatakan Yoyok sudah sesuai dengan kode disiplin yang ada.
Sayangnya, PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi kerap gagap dalam menanggapi polemik tersebut. Padahal, disebutkan Yoyok, andai mereka rajin melakukan sosialisasi kepada publik melalui media massa, tentu saja akan diterima dengan baik.
Sedangkan Tommy Welly menegaskan, PSSI harus bersih-bersih di tahun baru 2019. Ini demi membangun kembali kepercayaan publik yang menurun terhadap PSSI akibat beredarnya  berbagai masalah dan isu negatif.
"Saya kira jelas, hal-hal tadi (dugaan match fixing) membuat moral federasi runtuh. Moral apalagi yang harus dipertahankan?" kata pengamat sepakbola yang kerap disapa Bung Towel ini.Â
"Ini harus dibersihkan dulu. Saya kira, voters ini bodoh seandainya tidak mendesak angin perubahan. Soal Exco, voters yang memilih Exco ini harusnya bertanggung jawab dengan apa yang dipilih," tegasnya. (One)