SOROT 538

Etnis Tionghoa, Menanti di Pinggiran

Suasana ibadah warga Tionghoa di Klenteng Tjen Lin Kong atau Poncowinatan
Sumber :
  • VIVA.co.id/Daru Waskita

Setiap tahun, klenteng Hok Tek Bio dan jalan Suryakencana menjadi pusat perayaan Cap Go Meh, perayaan yang diadakan sekitar dua pekan setelah Imlek, di kota Bogor. Aneka atraksi budaya termasuk Liong Barongsai dipertontonkan. Perayaan dilakukan di sepanjang jalan yang juga beken dengan sebutan “Jalur Naga” itu.

img_title Imlek Identik dengan Nuansa Merah, Begini Penjelasannya

Perayaan Cap Go Meh di Bogor rutin diadakan setiap tahun. Acara ini diberi nama “Pesta Rakyat Cap Go Meh,” dan biasanya dipadati pengunjung yang bisa mencapai 100.000 orang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kebencian Rasial, Petaka Tak Berujung

img_title 5 Menu Khas Imlek yang Maknanya Dalem Banget

Perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang meriah tak hanya terjadi di Bogor. Dua wilayah lain yang juga merayakannya dengan meriah adalah Glodok, Jakarta Barat, dan Singkawang, Kalimantan Barat. Tiga wilayah ini memang memiliki jumlah etnis Tionghoa lebih besar dari wilayah lainnya.

Bagi kelompok Tionghoa, keterbukaan adalah hal yang mahal. Selama puluhan tahun gerak mereka dibatasi. Meski orang dari Tiongkok pertama sudah datang ke Indonesia pada abad ke-4 Masehi, penerimaan dan pembauran dengan penduduk negeri ini tak berlangsung mulus.

img_title Perpaduan Indah Cheongsam dan Lurik untuk Busana Imlek

Abad ke-9, bisa disebut sebagai awal kedatangan orang Tiongkok dalam jumlah besar ke Indonesia. Mereka menggunakan Jalur Sutera Maritim atau Nanhai/Nanyang. Mereka berdatangan ke Pulau Jawa untuk berdagang dan sebagian menetap di Pulau Jawa.

Tapi tonggak kehadiran etnis Tionghoa di negeri ini baru bergaung setelah kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Samudera Pasai. Apalagi Cheng Ho kemudian datang ke Palembang dan Pulau Jawa, dan ikut menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.

Patung Laksamana Cheng Ho.

Patung Laksamana Cheng Ho

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Proses pembauran dan asimilasi etnis Tionghoa dengan warga di Pulau Jawa saat itu  terbilang aman. Tapi di abad ke-17, masa penjajahan Belanda adalah awal kehidupan tak tenang mereka di negeri ini. Belanda khawatir tak mampu menguasai Hindia Belanda karena warga setempat lebih menerima etnis Tionghoa. Akibatnya, Belanda memburu mereka besar-besaran, menangkapi dan membantai mereka.

Sejak itu, etnis Tionghoa tak pernah hidup tenang. Dikutip dari historia.id, abad 18, giliran etnis Tionghoa di Ngawi yang diburu dan diperangi. Putri Sri Sultan Hamengkubuwono menyerbu kota Ngawi, kota di tepian Bengawan Solo yang dihuni mayoritas etnis Tionghoa.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut