SOROT 538

Etnis Tionghoa, Menanti di Pinggiran

Suasana ibadah warga Tionghoa di Klenteng Tjen Lin Kong atau Poncowinatan
Sumber :
  • VIVA.co.id/Daru Waskita

Agni juga mengakui etnis Tionghoa kerap di-framing dengan dunia ekonomi, padahal mereka ada di berbagai bidang. “Selama ini etnis Tionghoa sering di-frame dengan profesi di bidang ekonomi, tapi mereka juga ada di cabang olah raga dan seni budaya,” ujar Agni.

img_title Imlek Identik dengan Nuansa Merah, Begini Penjelasannya

Dari budaya, Agni merujuk ke Didi Nini Thowok, seorang etnis Tionghoa yang sangat dekat dengan kesenian Jawa. Prestasi mereka dan nama besar mereka menuai pujian. Pada kondisi itu, asal muasal mereka sebagai etnis Tionghoa seolah dilupakan. Mereka adalah bagian dari negeri ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Didik Nini Thowok

img_title 5 Menu Khas Imlek yang Maknanya Dalem Banget

Seniman Didik Nini Thowok

Agni menolak bahwa mereka berkembang karena mendapat fasilitas. Sejak zaman Belanda, tutur Agni, hanya segelintir dari etnis Tionghoa yang diajak bekerja sama dengan Belanda. Tak ada yang mendapat perlakukan istimewa. “Saya meneliti koran-koran Melayu Tionghoa, mayoritas dari mereka justru melawan Belanda. Mereka mayoritas nasionalis,” ujar Agni.

img_title Perpaduan Indah Cheongsam dan Lurik untuk Busana Imlek

Dosen Universitas Indonesia ini mengklasifikasi tiga kelompok mainstream di kalangan etnis Tionghoa, yaitu kelompok pro Belanda, kelompok pro Tiongkok, dan kelompok nasionalis Indonesia. “Yang mendapat keistimewaan hanya yang masuk Kristen karena otomatis haknya disamakan dengan bangsa Eropa dan Jepang yang masuk Kristen. Itu juga tidak semua diistimewakan, ada juga yang sudah masuk Kristen masih tetap didiskriminasi,” ujarnya menjelaskan.

Merasuknya etnis Tionghoa juga terasa dalam dunia kuliner dan bahasa. Agni menunjuk mie, bakso, siomay, capcay, sebagai makanan yang awalnya adalah dari etnis Tionghoa dan kini sangat cair dalam keseharian masyarakat negeri ini.

“Untuk bahasa kata serapan di KBBI dari bahasa dialek Hokkian juga banyak, misalnya gopek, loteng, bangsat, kecap, bakiak, dan lain lain,” katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Etnis Tionghoa sudah berabad-abad ada di negeri ini. Keberadaan mereka harusnya sudah tak bisa lagi dianggap sebagai pendatang. Faktanya, banyak diantara mereka yang lahir, beranak pinak, bahkan menjadi turunan ke sekian dari leluhurnya.

Mereka sudah mulai putus akar dari negeri asalnya, dan tetap setia pada negeri ini. Tapi keberadaan mereka kerap dipinggirkan. Mereka tertolak, dan dianggap sebagai orang asing, pendatang, dan bukan bagian dari negeri ini. Lalu digunakan sebagai alat politik untuk menimbulkan sentimen iri hati, bahkan kebencian.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut