- VIVA/Rifki Arsilan
![]()
Kampanye anti golput
Menurut dia, ada banyak faktor yang membuat seseorang tidak memilih. Misalnya, orang tersebut tidak mendapat undangan untuk memilih, tidak terdaftar sebagai pemilih atau di luar kota, tidak mendapat izin kerja dan lainnya.
Arya memperkirakan, golput tak akan berpengaruh signifikan dalam pemilu di Tanah Air sehingga tak perlu dikhawatirkan. Ketika survei dilakukan, menurut dia, umumnya 55 persen lebih responden menyatakan akan memilih. "Potensi orang memilih jauh lebih besar dibanding yang golput," ujarnya.
Segendang sepenarian. Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan, golput tidak akan berdampak signifikan ke Pilpres 2019. Angka golput di Pilpres diperkirakan sekitar 30 persen. Sementara di Pileg diprediksi akan lebih besar.
Jika dibandingkan dengan data-data sebelumnya, menurut Yunarto, angka itu stabil. "Golput kita baik di pilkada ataupun pilpres angkanya ada di sekitar 30 persen, dan itu gabungan dari golput teknis, administratif, dan golput ideologis," ujarnya.
Di Indonesia, problem golput antara lain karena teknis dan administratif. Misalnya, jauhnya jarak dari rumah ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), orang-orang yang bekerja dan sulitnya mengurus formulir A5 untuk pindah TPS. "Jadi tidak sepenuhnya karena kesadaran untuk tidak memilih," kata Yunarto.
Ke depannya, untuk mengurangi golput teknis, menurut dia, ada beberapa hal yang harus dibenahi KPU. Misalnya, aturan soal formulir A5 harus dipermudah, seperti calon pemilih tidak harus kembali ke daerah asal TPS lebih dulu. "Itu akan sangat memperkecil angka golput," ujarnya.
Bagi kandidat, jika mau bicara angka golput dalam konteks secara berkualitas, yaitu dengan menaikkan tingkat kepercayaan dan kepuasan publik. Hal itu bisa terbaca dalam survei-survei kepuasan publik terhadap partai. "Kalau itu terjadi, golput pasti turun kok," kata Yunarto.
Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma'ruf Amin, Arya Sinulingga menilai wajar golput terjadi dalam setiap pemilu, baik golput secara ideologis maupun tidak. Lantaran itu, pihaknya akan terus mengajak mereka untuk menggunakan hak pilihnya.
Untuk golput ideologis, menurut dia, pihaknya akan melakukan pendekatan, seperti mengajak mereka berdiskusi. "Karena apa pun namanya, kalau ideologis pasti ingin perubahan. Sekarang dinegoisasi perubahannya," ujar Arya.