SOROT 541

Golput, Dulu dan Sekarang

Demonstrasi mendukung Golput itu Halal
Sumber :
  • Antara/ Fanny Octavianus

Bagi Asfinawati Golput dalam konteks sekarang adalah suatu langkah rasional. Sebagai pegiat HAM, ia melihat tidak ada jalan keluar bagi para korban pelanggaran HAM dari kedua calon. Dan bagi Asfin, itu adalah tragedi.  Ia menunjuk Prabowo yang kerap bicara isu kerakyatan dan di visi misinya menyebut soal kriminalisasi, tapi Prabowo di masa lalu adalah bagian dari pelaku kriminalisasi. Asfin juga merujuk ratusan hektar tanah yang dimiliki Prabowo dan proyek-proyek yang dimiliki, maka menurut Asfin, Prabowo adalah orang yang paling potensial melakukan pelanggaran HAM jika dia berkuasa.

img_title Pastikan Pilkada Serentak Siap Digelar, Budi Gunawan Minta Warga Jangan Golput

"Nah, di sisi yang lain ada Jokowi. Jokowi misalnya jualan isu keberagaman, toleransi, dan lain lain. Tetapi ada kasus lama yang seharusnya dapat dia selesaikan tapi tidak dia selesaikan, seperti kasus GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, atau yang terakhir itu tentang putusan Mahkamah Konstitusi untuk Penghayat. Itu kan tidak ada penyelesaiannya," tutur Asfin. Bagi Asfin, sikap Jokowi yang tetap diam bisa dibilang tragis, karena Jokowi tak perlu melakukan tindakan yang heroik, ia cukup menjalankan putusan pengadilan. Tapi itu tak dilakukan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Lalu bagaimana masyarakat bisa percaya dengan semua omongan Jokowi itu kalau yang diperlihatkan seperti ini?" ujarnya bernada menggugat. 

img_title KPU Jakarta: Golput dan Coblos 3 Paslon Tak Pengaruhi Kemenangan Paslon

AKSI KAMISAN 14 TAHUN WAFAT MUNIR

Aksi Kamisan mendesak penuntasan kasus HAM di depan Istana 

img_title KPU Sebut Gerakan Coblos 3 Paslon Bikin Pilkada Jakarta Lebih Mudah, Kok Bisa?

Asfin menyayangkan respon yang disampaikan orang ketika mereka yang golput memunculkan sikap politiknya. Menurutnya, di masa pemerintahan Orde Baru meski golput ditentang, tapi tak ada narasi yang menyatakan, "jika Anda golput, nanti penjahat yang akan naik." Bagi Asfin, pernyataan tersebut adalah politik menakut-nakuti, dan politik yang sebenarnya ingin mengatakan, saya lebih baik dari yang lain.

Tapi keyakinan Asfinawati dibantah oleh Direktur Eksekutif Charta Politica Yunarto Wijaya. Yunarto tak yakin tingginya angka golput sekarang ini semata-mata karena sikap politik. Ia mengategorisasikan golput dalam tiga bagian, golput ideologis, golput teknis, dan golput administratif. Menurutnya di masa Orde Baru, golput adalah perlawanan terhadap sistem yang otoriter dan itu adalah golput ideologis.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut