- Antara/ Fanny Octavianus
"Tapi sekarang ada golput teknis, yaitu terkait dengan, misalnya jauhnya jarak dari rumah ke TPS, orang-orang yang bekerja dan sulitnya mengurus A-5 di daerah yang berbeda, nama-nama yang meninggal tapi masih masuk ke DPT, pengurusan single identity number lewat e ktp yang sampai sekarang belum selesai. Itu menurut saya juga problem, golput teknis dan administratif. jadi tidak sepenuhnya karena kesadaran untuk tidak memilih," ujarnya.Â
Menurut Yunarto, untuk golput ideologis, pemerintah tak memiliki kewajiban untuk menarik mereka kembali. "Hanya rezim otoriter yang menghalangi pilihan politik seseorang," ujar Yunarto.Â
Tapi untuk golput yang terjadi karena masalah teknis dan administratif, maka pemerintah wajib menyelesaikan hal tersebut. Ia mengambil contoh soal e-KTP yang mengarah ke single identity number. "Seharusnya, kalau e-KTP sudah mencerminkan representasi pemilih sebagai warga negara, harusnya nanti cukup membawa e-KTP. Dan itu bisa dilakukan, dimanapun kan harusnya bisa memilih. itu akan sangat memperkecil angka golput," ujarnya.Â
Yunarto mengatakan, jika untuk Golput teknis dan administratif perlu dilakukan berbagai perbaikan, makan untuk menekan angka golput ideologis adalah dengan menaikkan tingkat kepercayaan dan kepuasan publik. Dan naik turunnya kepercayaan publik bisa terbaca dalam survei-survei mengenai kepuasan publik terhadap partai. Yunarto yakin, jika kepuasan dan kepercayaan publik meningkat, maka angka golput akan turun.Â
![]()
Spanduk kampanye anti golput
Peneliti CSIS Arya Fernandes juga meyakini angka golput ideologis tak signifikan. Ia mengakui, memutuskan untuk golput adalah hak dan pasti terjadi. Tapi, banyak faktor yang membuat seseorang tak menggunakan haknya untuk memilih. Seperti Yunarto, Arya juga menunjuk problem administratif sebagai penyumbang tingginya angka golput. Arya juga menyebut hal tersebut bukan golput, tapi penurunan partisipasi.Â
"Dalam demokrasi golput sulit dihilangkan. Tapi mereka yang saat ini golput karena merasa tidak menemukan hal positif dari dua pasang kandidat menurut saya angkanya kecil. Dari berbagai hasil survei, angkanya tak pernah lebih dari tiga persen," ujar Arya kepada VIVA.Â
Banyak faktor yang membuat seseorang tak menggunakan hak pilihnya. Misalnya, tak mendapat undangan untuk memilih, tidak terdaftar sebagai pemilih atau berada di luar kota, tidak mendapat izin kerja, dan lain sebagainya. Arya mengatakan jumlah golput karena motivasi politik tetap tak signifikan, dan karenanya tak perlu dikhawatirkan. Arya mengakui, ada juga mereka yang memilih golput karena kecewa, tapi trennya hanya sementara saja. Bahkan di media sosial, teriakan golput juga tak terlalu kencang.