- VIVA/Purna Karyanto
![]()
Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Abah Daum saat berada di gudang kopi di Desa Mekarjaya, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. (VIVA/Purna Karyanto)
Mengejutkan, karena cukup rumit pengolahannya. Kami baru sadar ketika tahu, Uu adalah ahli dalam bidang pertanian. Gelar magister yang didapatnya dari Institut Pertanian Bogor (IPB), benar-benar diterapkan di kampung halamannya.
Kami kembali mereguk kopi hutan ini. Rasa pahit kopi cukup kuat terasa, kemudian ada sensasi buah di dalamnya, terasa seperti durian dan pisang. Tingkat keasaman kopi ini juga tidak tinggi dan bersih, jadi bersahabat dengan perut penikmat pemula. Dan cita rasa ini memang khas kopi Jawa Barat.
After taste kopi ini juga terasa begitu panjang. Inilah bukti teknologi nano yang diterapkan dalam penanaman kopi Leuweung Gunung Sangar. “Besok, kita ke hutan ya. Lihat kopinya yang ditanam di sana,” ujar Uu.
Keesokan harinya, kami langsung menuju hutan di kawasan Gunung Sangar. Jalannya berbatu, dan sulit dilalui kendaraan. Kami harus membelah hutan dengan berjalan kaki. Akhirnya, kami menemukan ‘surga’ di dalamnya, lahan yang penuh dengan pohon kopi. Sekelilingnya, ditanam pohon durian dan pisang.
“Ini yang sebabkan kopinya terasa begitu buah. Kami tanam langsung di hutan. Biarkan mereka berkembang bersama pohon lainnya. Jadi, alami. Organik lah,” ujar Abah Daum.
“Makanya, kopi kami tak kalah rasanya. Beda, dari yang lain,” timpal Aripin.
Kopi Spesial
Kopi Leuweung Gunung Sangar sejatinya memiliki kualitas kelas wahid. Dalam bahasa kopi, bisa dikategorikan sebagai specialty coffee. Proses produksi kopi ini memang sangat rumit. Bukan cuma pada proses penanamannya. Namun, pengolahannya juga. Tiga teknik diterapkan dalam proses pengolahan kopi pasca panen. Abah Daum menjelaskan, proses honey, natural, hingga full wash, jadi andalannya.
“Sekarang, sedang fokus ke proses honey. Perlu enam bulan, agar rasanya sempurna,” ujarnya.
Enam bulan bukan waktu yang singkat. Pengorbanan seorang petani dalam urusan proses dan merelakan dapurnya tak ‘ngebul’ juga terjadi. Uu menjelaskan, Abah Daum sempat tak menjual produknya selama satu tahun.