SOROT 546

Kopi Klasik Nan Unik

Biji kopi di hutan Desa Mekarjaya, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung.
Sumber :
  • VIVA/Purna Karyanto

sorot kopi jawa barat - Kegiatan petani memetik biji kopi di hutan

img_title Sering Dilakukan Pria, Kebiasaan Ini Diam-diam Bisa Bikin Tekanan Darah Naik

Abah Daum saat memetik biji kopi di hutan. (VIVA/Purna Karyanto)

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bukan cuma fokus menghasilkan kopi berkualitas. Namun, vakumnya Abah Daum dalam menjual kopi produksinya karena strategi pemasaran Kopi Leuweung. “Sampai beliau pusing. Tapi, ketika stok kopi di daerah lain berkurang, kami kebanjiran pesanan. Semua datang, dan kopi kami diborong,” ujar Uu.

img_title Kopi Disebut Bisa Picu GERD, Mitos Atau Fakta? Ini Penjelasannya

Pengorbanan itu menghasilkan kopi yang kualitasnya tak sembarangan. Rasa memang tak bohong. Kopi Leuweung, yang sudah kami coba, memiliki rasa yang khas. “Kata orang sih beda dari yang lain,” kata Aripin.

Kopi Leuweung sebenarnya belum setenar varian lain dari Jawa Barat. Masih kalah sohor dari Kopi Puntang, Gunung Halu, Manglayang dan Garut. Maklum, karena mereka baru dalam proses membangun bisnis kopi.

img_title 71 Persen Orang Indonesia Pilih Ngopi di Coffee Shop, Tapi Ada 5 Hal yang Sering Tak Disadari!

Tren menanam kopi di Desa Mekarjaya, mulai marak pada 2010. Pada 2004, sebenarnya sudah dimulai. Namun, hasil penanaman kopi saat itu tak memuaskan. Baru pada medio 2010 itulah, kopi berhasil dibudidayakan di kawasan Desa Mekarjaya. Pohon kopi itu ditanam di lahan sekitar 384,36 hektar. Namun, baru sekitar 20 persen yang dimanfaatkan warga lokal untuk menanam pohon kopi.

“Mereka menanam kopi di tegakan pohon pinus. Baru sekitar 20 persen, dimanfaatkan oleh warga untuk menanam kopi. Awalnya, hanya 70 petani yang menanam kopi. Namun, dengan bantuan berbagai pihak, termasuk PT LEN yang memberikan bantuan 10 ribu pohon kopi, semangat petani meningkat. Kini, ada sekitar 200 petani yang menanam kopi,” ujar Aripin.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

https://www.youtube.com/watch?v=3mKPQKr88Z4&feature=youtu.be

Secara praktik, menurut Uu, lahan di Gunung Sangar yang ditanami kopi sebenarnya baru 25 hektar. Dan hanya seperempat yang bisa memproduksi kopi. “Banyak sebenarnya keterbatasan dialami oleh kami. Mulai dari fasilitas, peralatan, dan lainnya. Kami di sini memang terkendala dengan berbagai hal. Namun, kesan yang diberikan para penikmat terhadap Kopi Leuweung ini, membuat kami optimis. Investor? Kami harapkan bantuan dari orang lokal. Kenapa? Karena, kami ingin kopi ini dimiliki oleh orang Indonesia. Ada loh, kopi Indonesia yang memang kualitasnya wahid,” kata Uu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut