- VIVA/Purna Karyanto
Kopi Klasik Era Kolonial
Tren penanaman kopi di Desa Mekarjaya memang baru gencar di 2010. Namun, pada dasarnya, Desa Mekarjaya punya sejarah panjang dalam bidang kopi di Indonesia. Kawasan ini ternyata menjadi salah satu daerah pionir penanaman kopi di Indonesia. Di masa kolonial, kopi masuk pada akhir abad 17. Dalam masa tersebut, permintaan kopi di pasar internasional memang sedang meningkat. Kongsi Dagang Hindia Belanda (VOC) melihatnya sebagai sebuah peluang untuk ekspansi dalam bisnisnya.
Menyadari iklim tropis dan kondisi lahan di Indonesia yang subur, VOC mulai mendatangkan bibit kopi pada 1696. Kala itu, mereka mendatangkan bibit kopi dari Malabar, India. Awalnya, VOC berniat mengembangkan kopi di Batavia. Kawasan yang sekarang bernama Pondok Kopi, Jakarta Timur, adalah wilayah pertama penanaman kopi di Batavia kala itu. Sayangnya, kopi di sana gagal tumbuh lantaran bencana banjir di Batavia.
Selang tiga tahun, VOC kembali mendatangkan stek pohon kopi dari Malabar. Kali ini, mereka tak membudidayakannya di kawasan Batavia. Mereka menggesernya ke daerah Priangan. Di kawasan Priangan, VOC mencoba menanam bibit kopi yang dibawa dari Malabar. Kopi itu tumbuh, hingga pada 1706, sampel kopi yang ditanam, dibawa ke Belanda untuk diteliti. Hasilnya memuaskan. Kopi tersebut ternyata dianggap tak kalah dalam urusan kualitas rasa. Secara nutrisi terbilang sangat baik. Hingga pada 1711, kopi dari Jawa Barat dan lainnya mulai diekspor.
Berkat keberhasilan di Jawa Barat, pada pertengahan abad 17, VOC mulai menanam kopi ke berbagai daerah seperti Sumatera, Bali, Sulawesi, hingga Kepulauan Timor. Kebijakan perluasan lahan kopi didasari atas keberhasilan VOC menjadi raksasa dalam bisnis kopi di Eropa saat itu. Ya, hanya dalam kurun waktu 10 tahun, atau tepatnya 1721, VOC menguasai perdagangan kopi.
Kualitas kopi Jawa Barat dan bagian lainnya, dianggap wahid. Rasanya yang beragam, begitu bersahabat dengan lidah para penikmatnya di benua biru. Hingga akhirnya, muncul istilah “A Cup of Java”.
![]()
Proses pemilihan kualitas biji kopi. (VIVA/Purna Karyanto)
Penanaman kopi juga dilandasi oleh sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) yang diterapkan VOC kala itu, terilhami dari Preanger Stelsel. Seperlima lahan, diharuskan menanam komoditi ekspor, termasuk kopi. Inilah yang membantu VOC dalam meningkatkan kuantitas produksi kopi hingga akhirnya menjadi eksportir kopi raksasa. Sayangnya, kenaikan kelas VOC tak diimbangi dengan kondisi petani lokal.