- VIVA/Purna Karyanto
Dari sini, angka kemiskinan penduduk lokal kian meningkat. Mereka diperas, tak mendapat upah layak, dan kampung halaman rusak parah akibat pembabatan hutan.
![]()
Biji kopi asal Jawa Barat dengan tekstur dan aroma yang khas. (VIVA/Purna Karyanto)
Pada periode 1826 hingga 1865, kondisi alam di tanah Jawa begitu memprihatinkan. Sebab, banyak hutan yang mulai terancam gundul karena adanya perintah pembabatan demi memenuhi kuantitas produksi kopi. Di sisi lain, makelar kopi Belanda malah hidup enak di kota. Mereka sama sekali tak peduli dengan kondisi ekonomi petani dan kelangsungan hidupnya. Tak ayal, pemberontakan petani terhadap pemerintah kerap terjadi (Eduard Douwes Dekker: Max Haavelar and the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company).
Bencana terjadi pada 1878. Hama karat daun menyerang kopi-kopi yang ditanam di kawasan Hindia Belanda. Hampir seluruh perkebunan kopi di dataran rendah musnah. Hama ini menyerang kopi Arabika yang ditanam di dataran rendah. Sebagai gantinya, Pemerintah Hindia Belanda mendatangkan kopi berjenis Liberika. Beberapa tahun, kopi ini mampu menggantikan Arabika yang musnah karena hama karat daun. Lalu, di awal abad 20, kopi berjenis Robusta didatangkan pemerintah Hindia Belanda dan berhasil dibudidayakan.
Pada dasarnya, bukan bencana hama karat daun, alasan utama turunnya pamor kopi Jawa Barat atau dikenal sebagai Java Preanger yang klasik. Melainkan, kebijakan pertanian usai kemerdekaan Indonesia di kawasan Jawa Barat dan Pulau Jawa pada umumnya yang tak konsisten. Petani banyak yang meninggalkan budidaya tanaman kopi. Mereka lebih memilih tanaman palawija yang menghasilkan uang secara rutin karena kebijakan saat itu. (mus)
Baca Juga
Sejarah dan Ragam Kopi di Jawa Barat
Mengembalikan Pamor Kopi Klasik