- ANTARA FOTO/Didik Suhartono
Tak hanya petugas KPPS, anggota Polri juga menjadi korban dalam Pemilu 2019 ini. Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan, tahun 2019 ini jumlah anggota Polri yang meninggal karena menangani Pemilu meningkat hingga 100 persen. Tahun 2014, jumlah anggota Polri yang meninggal berjumlah hanya delapan orang. Tapi tahun 2019, hingga tulisan ini dirilis, jumlahnya sudah mencapai 16 orang.
Kelelahan Pencabut Nyawa?
Jumlah korban petugas PPS yang meninggal dunia hingga mencapai ratusan, dan ribuan lainnya sakit, membuat publik mengarahkan tudingan pada Pemilu serentak 2019 sebagai kontributor utama hilangnya ratusan nyawa itu. Faktor kelelahan disebut sebagai penyebab mengapa begitu banyak petugas yang akhirnya meregang nyawa.
![]()
Petugas KPPS jatuh sakit karena kelelahan
Sejumlah pihak, termasuk ketua atau komisioner KPU menyampaikan dugaan mereka. Kebanyakan korban meninggal karena kelelahan atau tekanan psikis. Komisioner KPU Kota Malang Aminah Asminingtyas menduga, Subali, petugas yang melakukan upaya bunuh diri tertekan akibat beban psikis terkait pelaksanaan Pemilu 2019.
"Penyebab utama bisa saja tidak hanya karena Pemilu. Bisa juga ada faktor lain, mungkin karena badan capek, psikis terganggu atau karena hal lain. Memang tanggung jawabnya berat, karena sekarang tugas KPPS itu semakin rumit," tutur Aminah.
Pandu Rista Pratama (32 tahun) petugas PPS Kelurahan Ratujaya, Depok, Jawa Barat, termasuk yang beruntung. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi ia tak sampai kehilangan nyawa. Pandu mengaku kelelahan. Persiapan sudah dilakukan sejak tiga minggu sebelum hari H. "Persiapan logistik hampir tiga minggu sampai pelaksanaan enggak ada istirahatnya. Istirahat kurang, sampai rekapitulasi. Mungkin karena kelelahan, asupan makan kurang, kita juga punya target kapan kotak itu sampai dan lain-lain," ujarnya.
Ia bercerita, bagaimana proses rekapitulasi dilakukan sejak jam 9 malam sampai jam 12 malam. Karena ingin cepat selesai, Pandu dan petugas lainnya mengebut pekerjaan. Karena keadaan fisik kurang istirahat, ia mulai mesakan sakit lambung.
"Saya izin satu hari tapi saya paksakan lagi. Akhirnya kemarin saya ke rumah sakit ke IGD RS Bunda Aliyah, pas dicek ada penyakit di lambung ada luka dan vertigo. Diagnosa dokter terlalu banyak begadang dan istirahat kurang," tuturnya. Pandu sempat berusaha memaksakan diri untuk membantu merekap. Namun akhirnya ia menyerah, meminta istirahat, dan akhirnya kembali ke rumah sakit.