- ANTARA FOTO/Didik Suhartono
Berdasarkan apa yang terjadi tahun ini di mana petugas memiliki jam kerja yang berat dan 'kacau balau,' doter Adrian Ginting mengibau agar di tahun mendatang perlu ada semacam tes kesehatan bagi mereka yang akan dilibatkan untuk menjadi petugas Pemilu. Ia berharap, tak ada lagi 'irit,' tapi mengorbankan nyawa orang.
Tinjau Pemilu Serentak
Mengingatkan kembali, pelaksanaan pemilu serentak 2019 merupakan perintah dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 14/PUU-XI/2013 yang kemudian diatur dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017. Tahun 2014, negara ini masih memisahkan pelaksanaan Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden. Namun Pemilu 2019, kedua pemilihan itu dilakukan berbarengan.
Bukan hanya soal penghitungan suara yang membutuhkan waktu lebih panjang. Namun aktivitas petugas sejak dilantik pada bulan Maret hingga selesai penghitungan suara juga dirasa berat. Selama sebulan penuh, mereka sudah mulai bekerja agar pelaksanaan Pemilu berjalan sesuai harapan. Dimulai dari mengikuti bimbingan teknis, sosialisasi, tata cara pendirian TPS, melaksanakan pemungutan suara hingga melakukan penghitungan kertas suara, kemudian melakukan rekapitulasi di TPS, hingga mengantar kotak suara ke kelurahan. Bahkan, saat ada persoalan di PPK, anggota PPS bakal dipanggil untuk menjelaskannya.
![]()
Surat suara
Honorarium yang diterima hanya berkisar antara Rp450 ribu hingga Rp800 ribu, dan itu rasanya jadi sangat tak sebanding dengan kelelahan yang mereka alami, bahkan hingga berujung lepasnya nyawa. Menilik itu, desakan untuk mengubah kembali sistem pemilihan menguat. Sejumlah tokoh, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta agar pelaksanaan Pemilu serentak ditinjau ulang.
Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Abhan juga mengakui sistem Pemilu 2019 sangatlah rumit. "Memang ini begitu kompleks, secara teknis bisa kita rasakan. Tentu ini menjadi suatu yang harus dipikirkan," kata Abhan di gedung Bawaslu, Jakarta, Selasa 23 April 2019.
Ketua Komisi II DPR RI Zainuddin Amali menyebutkan, secara keseluruhan Pemilu serentak, yang Lowy Institute, sebuah lembaga peneliti sosial di Australia disebut sebagai Pemilu terumit se-dunia berjalan dengan baik. Tak ada kerusuhan berarti, dan tingkat partisipasi peserta pemilu mencapai 89 persen menjadi indikasi Pemilu ini berjalan dengan baik dan aman. Tapi Zainudin setuju, pelaksanaan Pemilu serentak perlu dievaluasi.