- VIVA/ Isra Berlian
Menurut dia, penutupan yang dilakukan bukan tanpa alasan. Keputusan itu didasari strategi perusahaan untuk melakukan transformasi bisnis, sehingga berdampak terhadap beberapa toko yang dimilikinya.
"Rencana penutupan akan dilakukan pada 28 Juli 2019, dan telah dikomunikasikan kepada rekan kerja di seluruh toko," ujarnya.
Wahyu mengungkapkan, upaya yang dilakukan perseroan tentunya berdasar pada sejumlah data yang ada saat ini, di mana perseroan perlu merespons perilaku konsumen yang berubah dengan cepat.
![]()
Giant diserbu pembeli yang berburu diskon
Selain itu, pola konsumen yang berubah itu juga didorong oleh sejumlah ritel makanan di Indonesia yang tumbuh dengan cepat sehingga meningkatkan persaingan dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan demikian, meski Giant mempunyai brand yang cukup kuat namun perlu sejumlah adaptasi untuk bersaing secara efektif dengan menerapkan program multiyears transformation untuk memberikan peningkatan jangka panjang. Sementara itu, terkait persaingan yang ketat dan membuat pendapatan Giant turun, Wahyu mengungkapkan pihaknya masih menunggu laporan keuangan yang akan diumumkan mendatang.
Ketua umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicolas Mandey mengungkapkan, tutupnya gerai Giant tak lain disebabkan dampak dari anomali industri ritel beberapa tahun terakhir.
Menurut dia, anomali ini sudah terjadi sejak 3-4 tahun terakhir, ketika industri ritel sudah beranggotakan 4.000 toko dengan 600-an anggota dari Aceh hingga Jayapura.
Munculnya anomali tersebut terjadi karena beberapa faktor. Pertama, akibat dampak globalisasi yang berubah-ubah sesuai zaman sehingga mau tak mau harus ikut melakukan perubahan. "Karena kita meyakini satu-satunya perubahan yang tidak berubah yaitu perubahan itu sendiri," kata Roy kepada VIVA, Kamis, 4 Juli 2019.
![]()
Ketua umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicolas Mandey ?
Lalu, faktor kedua adalah teknologi. Di mana globalisasi mendorong perubahan perilaku dari konsumen untuk lebih cepat mendapat info dan lebih mudah mengakses informasi lewat internet. Mudahnya akses itu membuat tren atau gaya juga berubah begitu cepatnya, sehingga perubahan globalisasi yang didukung teknologi dapat mengubah segala sesuatunya di zaman sekarang ini, termasuk pola belanja konsumen.