- VIVA/ Isra Berlian
"Jadi tak ada korelasinya dengan bisnis online, karena pendapatannya dari bisnis lainnya dari Giant, Hero dan dari IKEA. Sehingga Giant sendiri hanya salah satunya," jelas Roy.
![]()
IKEA Alam Sutera
Selain itu, meski perkembangan online semakin cepat tetapi bukan berarti mematikan pasar ritel modern. Karena tidak bisa dipungkiri jumlah dari transaksi hariannya pasti berbeda. Di mana, lanjut Roy berdasarkan survei 2017-2018 market cap offline industri di Indonesia mencapai US$350 miliar. Sedangkan online baru menargetkan pada 2030 dapat mencapai US$130 miliar.
Untuk itu, industri ritel modern juga telah melakukan beberapa solusi yaitu melakukan Mixius dan Omni Channel. Mixius sendiri adalah cara pelaku usaha memadukan dunia ritel dengan usaha lainnya. Seperti, memadukan secara fisik usaha kuliner dengan bidang hiburan yang bisa dinikmati konsumen. Sedangkan, Omni Channel memilih mengombinasikan berbagai macam cara berbelanja, yang tak hanya distribusi fisik saja melainkan bisa didistribusikan melalui online atau elektronik ecommerce.
Pengamat Ekonomi Indef, Berly Martawardaya mengatakan, tak sepenuhnya bisnis ritel modern kalah bersaing dengan bisnis online saat ini. Sebab, hal tersebut memiliki segmennya masing-masing. Dengan demikian, kata Berly industri ritel ke depan harus memperkuat segmennya, main di low cost atau high value agar membuat orang tetap mau datang dan berbelanja.
"Ya itu memang tantangannya, tetapi segmentasi harus kuat dalam bisnis marketing dan yang paling penting segmentasi positioning mana yang mau dikejar serta strateginya beda enggak sama," ujarnya. (umi)
Baca Juga
Dari Supermarket hingga Hypermarket