- ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Selain itu juga ada sesi sharing dari pasangan yang sudah menikah. Pasangan suami istri yang sudah lama menikah 25 atau 30 tahun dan sudah menjalani kehidupan berkeluarga berbagi pengalaman bagaimana menjalani bahtera rumah tangga. Misalnya bagaimana membangun komunikasi di keluarga yang baik dan bagaimana cara menyelesaikan masalah keluarga.
“Itu dilakukan agar keluarga-keluarga muda itu juga punya skill untuk memahami dari hakikat sebuah perkawinan.”
Menurut dia, kursus pranikah yang dilakukan oleh gereja Katolik itu tujuannya agar keluarga-keluarga muda memiliki pemahaman dalam hakikat rumah tangga. Gereja Katolik bahkan memiliki kurikulum pendidikan pranikah.
“Misalnya ada pendidikan seksualitas, pendidikan mengenai bagaimana tahap-tahap komunikasi. Kalau ada masalah kontaknya dengan siapa. Kemudian juga cara mengatur tata kelola ekonomi keluarga, ada semuanya itu,” ujarnya menjelaskan.
Konseling pranikah
Pematerinya juga beragam dan dari berbagai latar belakang keilmuan. “Ada dokternya, ada psikolognya, ada ahli moralnya. Itu ada timnya sendiri. Jadi di gereja Katolik itu ada yang namanya Komisi Keluarga. Nah itu yang menangani itu semua (kursus pranikah),” ujarnya.
Tak hanya Katolik. Umat Hindu juga sudah melakukan hal serupa. Ketua Dewan Pakar Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), I Nengah Dana mengatakan, di Hindu ada bimbingan sebelum menikah. Bimbingan dilakukan sampai pasangan dinyatakan benar-benar siap untuk menikah.
“Di Hindu ada lembaga konseling keluarga yang bertugas untuk melakukan penyuluhan atau bimbingan pranikah,” ujarnya kepada VIVAnews, Kamis, 21 November 2019.
Menurut dia, bimbingan pranikah itu dilakukan dengan cara memberikan bimbingan atau penyuluhan kepada calon-calon pengantin. Itu dilakukan agar pasangan yang akan menikah memahami lembaga perkawinan.
“Artinya, mereka paham apa kewajiban, apa tugas mereka masing-masing. Karena di kami kan, yang namanya perceraian itu sangat dihindari sekali,” ujarnya menjelaskan.
Nengah Dana menuturkan, dalam bimbingan itu yang paling utama adalah menekankan kematangan usia. Kemudian mental dan kejiwaan apakah pasangan itu sudah siap untuk menikah atau belum. Selain itu pasangan juga akan diberi pemahaman terkait fungsi perkawinan dalam agama Hindu.
Pertama, dalam perkawinan di Hindu itu, hubungan percintaan mereka harus legal. Jadi pasangan baru bisa menikmati hubungan seksual kalau sudah legal atau sah baik secara agama maupun hukum negara, namanya Paparadi. Kedua, meneruskan generasi ke depan yang baik, namanya Dharma Praja Ketiga, menyelenggarakan ibadat keagamaan. Itu namanya Dharma Sampati. Keempat, menyelenggarakan fungsi sosial, dan dia menjadi partner setia suami-istri. Itu namanya Dharma Patni.