SOROT 297

Menyulap Lokalisasi Jadi Terminal Bus

pasar kembang
Sumber :

"Mungkin yang paling merasakan adalah para tukang ojek," ujarnya. Para tukang ojek menurutnya memiliki langganan tetap. Mulai dari para WTS, mucikari hingga para lelaki hidung belang yang datang berkunjung. Kaspandi meneritakan orangtua dahulu pada awal tahun 1990-an adalah seorang tukang cuci.

img_title DEN Desak Reformasi Pasar Modal Berlanjut Usai Pengumuman MSCI, Penegakan Hukum Disorot

Dia masih ingat benar bagaimana dia mengambil pakaian kotor dan mengantarkan pakaian bersih yang telah selesai dicuci oleh ibunya. "Sekarang setelah ditutup, para WTS dan mucikari sebagian besar pindah ke Rawa Malang dan kolong jembatan Cilincing," ujarnya.

Tetangga Kaspandi, Edi Suhedi (55) yang pernah menjabat sebagai Ketua Rukun Tetangga sebelum lokalisasi ditutup mengatakan dia sebelumnya memiliki penghasilan tambahan. Penghasilan tambahan itu dia peroleh dari para WTS dan mucikari yang mengurus Kartu Tanda Penduduk.

Edi yang tinggal sejak kecil di Kramat Tunggak yang terletak di Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara mengatakan sejak lokalisasi ditutup, banyak warga yang mengeluh. Warga mengeluh karena sebelumya mereka bisa hidup dengan mengandalkan pendapatan dari lokalisasi.

"Ada yang jadi tukang cuci, ojek, tukang parkir, tukang becak, pedagang asongan, hansip dan lain-lain. Tukang cuci saja dulu bisa punya anak buah 10 orang. Banyak pemasukan yang dihasilkan bagi warga di sini," katanya.

Setelah ditutup, menurut Edi banyak warga yang akhirnya memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Namun ada juga dari mereka yang masih bertahan hingga hari ini.

"Setelah ditutup tahun 1999, tidak ada solusi dari Pemerintah DKI. Setelah ditutup ya dibiarin, dilepas begitu saja. Kemudian dibangun Islamic Centre," jelasnya.

Di depan Jakarta Islamic Centre yang berdiri di atas lahan eks lokalisasi, VIVAnews bertemu dengan Fransiska Margaretha Abraham, yang akrab disapa Siska (50). Siska bercerita tak lama setelah lokalisasi ditutup, ada seorang tukang ojek yang gantung diri. "Dia punya anak 11 orang, dia putus asa lalu gantung diri," katanya.

Setelah dilakukan penutupan, Siska bercerita para penghuninya berpencar. Selain ke Rawa Malang dan kolong jembatan Cilincing, banyak juga yang berpindah ke kafe-kafe karaoke di sekitar pelabuhan Tanjung Priok.

Ketika lokalisasi masih berdiri, suami Siska berjualan kupon judi togel. Dalam waktu sehari, suaminya bisa menyetor hingga Rp7 hingga 8 juta. "Kami dapat 30 persen," ujarnya. Dari pendapatan hasil menjual kupon judi itu, Siska bisa membangun rumah yang kini ditempatinya. Para pelanggan menurut Siska berasal dari dalam lokalisasi mulai dari WTS dan mucikari.

"Tapi itu dulu, sekarang saya jualan minuman asongan," jelasnya.

Setelah memperoleh cerita dari eks lokalisasi Kramat Tunggak, VIVAnews menuju ke Rawa Malang yang masih berada di Jakarta Utara. Bertemu dengan pasangan suami istri Pak Aboy dan Ibu Kesi. Mereka dahulu pernah menjadi mucikari di Kramat Tunggak.

Di kafe remang-remang miliknya bernama Indra Ayu, Kesi mengatakan sebelum lokalisasi ditutup, dia terlebih dahulu pulang ke kampung halamannya. "Setelah ditutup, saya baru pindah ke sini (Rawa Malang)," jelasnya.

Kesi memiliki 5 orang anak. Saat ini, perempuan 50 tahun itu mengurus kafe dibantu putra keduanya. Di kafe remang-remangnya, Kesi memiliki 5 orang anak buah perempuan yang siap menemani dan berkencan dengan pelanggan yang datang.

"Silahkan mas kalau ingin mencoba, tidak ada bedanya kok dengan yang di Kramat Tunggak," kata dia.

Kisah Sukses Solo

Lokalisasi Silir di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, kini sudah berubah. Kini, kawasan eks lokalisasi telah berubah menjadi pemukiman penduduk, Islamic Center, pasar klitikan Notoharjo hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Ar Rido. Kawasan ini sudah bebas dengan prostitusi.

Melihat ke belakang, lokalisasi yang terletak di bagian timur Kota Solo ini sudah ada sejak tahun 1960. Berdasarkan data yang dikumpulkan VIVAnews, kawasan Silir berdiri di atas dua wilayah rukun warga. Di lokalisasi itu terdapat sekitar 70-an rumah dan wisma. Setiap rumah memiliki luas sekitar 300 meter persegi. Tiap rumah itu biasanya menampung sekitar 10-15 PSK.

Setelah 37 tahun berdiri, pada 1997 lokalisasi itu ditutup. Penutupan dilakukan oleh Wali Kota Solo yang ketika itu dijabat Imam Sutopo. Sayangnya, meski sudah ada dasar hukum penutupan lokalisasi, kawasan Silir tetap hidup. Ratusan PSK masih saja beroperasi di tempat itu. Karena sudah ada dasar hukum penutupan, maka lokalisasi di Silir terbilang ilegal.

Iswanti, salah satu warga di Silir mengakui, para PSK masih saja beroperasi. Tetapi karena keberadaannya ilegal, maka mereka kerap dirazia oleh Pemkot Solo. Oleh sebab itulah tak jarang terjadi kejar-kejaran antara Satpol PP Solo dengan PSK.

“Dulu itu, setelah tahun 1997, para PSK ini kerap dirazia, dikejar Satpol PP. Mereka itu sering lari tunggang langgang masuk ke rumah penduduk. Yang penting mereka itu bisa lolos dari kejaran Satpol PP, “ ungkapnya.

Penutupan Silir secara nyata baru dilakukan pada tahun 2007 saat Solo kepemimpinan Joko Widodo dan FX Hady Rudiatmo. Pasangan yang baru memimpin Solo pada tahun 2005 ini melakukan serangkaian pendekatan kepada para mucikari dan PSK Silir.

Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengatakan mulai tahun 2006, dia mulai melakukan pendekatan ke para WTS dan mucikari di Silir. Pendekatan menurut Rudi dilakukan kurang lebih selama satu tahun.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut