SOROT 305

Kisah Hebat Pengasah Bakat

Pelatih Renang nasional, Radja Nasution
Sumber :
  • VIVAnews/Muhamad Solihin

img_title Teknologi di Balik Prebiotik Cair yang Mulai Dikembangkan di Indonesia

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kesulitan pun dialami Aminuddin. Walau sebagai pendiri SSB Samudera, dia tidak mendapat penghasilan dari sana. Bahkan peralatan latihan, seperti gawang, dia beli dengan uang sendiri. Lalu anak asuh yang tak punya sepatu, juga dia belikan dengan uang sendiri.    
img_title NPC Indonesia Bidik 10 Besar Asian Para Games 2026, Ada Satu Cabor yang Jadi Kekhawatiran


img_title MA Tolak Kasasi Marcella Santoso, Hukuman 15 Tahun Penjara Tak Berubah
Kendati mengelola sekolah sepakbola, Aminuddin tidak punya lapangan sendiri. Lapangan yang biasa dipakai, yang dipinjam ke lahan orang sebelah rumah, juga tidak memadai. Ukurannya tidak sesuai aturan.

"Saya tidak punya lapangan sendiri. Jadi ketika orang yang punya lahan yang biasa kami pinjam mengambil rumputnya, kami terpaksa mencari lapangan lain sampai rumputnya kembali tumbuh," ujarnya.

Aminuddin bercita-cita bisa membeli lapangan sendiri yang memadai. "Saya bermimpi, suatu saat kalau umur panjang dan rezeki ada, saya ingin membeli lapangan sehingga anak-anak bisa latihan dengan maksimal," kata dia.
 
Tapi, bagi Aminuddin, SSB Samudera bukan tempat mencari uang, melainkan tempat untuk bersenang-senang dan hiburan. "Dengan sepakbola, pergaulan kita semakin luas. Dulu sebelum ada SSB Samudera ini, saya merasa jauh dari Bupati. Tapi sekarang, melihat prestasi yang kita raih, bupati menjadi akrab dengan saya, bahkan seluruh pejabat teras itu sudah tidak ada jarak lagi," katanya.

Bangkitkan Indonesia

Membawa harum nama bangsa ke panggung dunia. Itu juga yang dicari oleh para pencari bakat seperti Yohanes Surya. Sejak tahun 1994 itu, Yohanes tak henti-hentinya melacak anak jenius dari berbagai kalangan di seluruh pelosok Indonesia, yang kemudian ia bawa untuk dilatih dan diikut sertakan ke dalam kompetisi-kompetisi bergengsi di bidang sains, matematika, maupun fisika.

Dia rela menjelajah pelosok-pelosok daerah terpencil, yang diharapkan setelah dilatih, mereka dapat melakukan penjumlahan dasar seperti kali, tambah, bagi, dan pecahan. Sehingga, dapat membenahi pendidikan secara merata di tempat tersebut.

"Saya mulai dari tahun 2008 mulai ambil anak-anak dari pelosok. Nah ternyata mereka itu yang hebat, tidak kalah dengan anak-anak di kota besar, kemampuannya bagus.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Bahkan, ada dua orang anak Papua (saat ini) di Sekolah Genius yang menonjol matematikanya. Mereka bisa mengalahkan anak-anak dengan IQ 159," ungkap Yohanes.
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut