SOROT 327

Menggapai Asa dari Balik Bukit

mts sururon
Sumber :
  • Dokumentasi Inceu

"Jangan sampai, alasan seragam atau sepatu, membuat siswa harus berhenti sekolah," kata Nurdin.

Diakui Nurdin, meski MTs Sururon belum banyak memiliki prestasi akademik akibat minimnya sarana dan prasarana, sekolah ini mampu berprestasi di antaranya di bidang seni pencak silat untuk tingkat Kabupaten Garut.

img_title Orang Tua Murid yang Diskors Adukan Kepala Sekolah ke Polisi

mts sururon

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tambahan materi berupa teori bertani, sehingga saat pulang ke rumah masing-masing, siswa akan mempraktikkannya di rumah bersama orangtua. Foto: Dokumentasi Inceu

img_title INFOGRAFIK: Sekolah Petani
Pengajar Tak Digaji 

Walaupun tenaga pengajar sukarelawan terdiri atas lulusan SMA dan sarjana, serta pembimbing Ponpes, mereka hingga saat ini tidak mendapatkan gaji atau honor.

"Kecuali, kami menyisihkan dari dana BOS untuk berbagi rezeki, meski nilainya jauh dari harapan," ujar Nurdin.

Hamid, salah satu pengajar sukarelawan di MTs Sururon itu, mengatakan, dia mulai mengajar pada 2009. Selepas menamatkan pendidikan SMA, dia langsung pulang kampung dan mengabdi menjadi tenaga pengajar sukarelawan di MTs Sururon.

Dia yang telah menyelesaikan studi S1 di Universitas Garut merupakan alumni MTs Sururon pada 2006. Selain dia, 9 orang temannya juga menjadi pengajar sukarela di MTs Sururon.

"Saya tidak sendirian, yang satu angkatan dengan saya juga ada yang mengajar di sini," ujarnya.

Alasan Hamid dan kawan-kawan rela tidak mendapatkan gaji atau honor selama mengajar, lebih sebagai bentuk pengabdian. Dulu saat bersekolah, dia juga tidak pernah dipungut biaya pendidikan, para pengajar terdahulu juga memberikan pelajaran berharga walaupun tak dibayar sepeser pun.

"Kalau dibilang balas jasa, ya sepertinya begitu, dari dulu sampai sekarang memang MTs Sururon tak memungut biaya kepada siswanya," tuturnya.

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Hamid aktif dalam berbagai kegiatan di desa seperti mengelola PNPM mandiri dan menjadi guru honorer di sejumlah sekolah lain.

Jiwa pengabdian kepada masyarakat memang ditanamkan di MTs Sururon. Pola itu mampu melecut semangat siswa untuk bisa menggapai cita-citanya hingga menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya. Yakub Hambali salah satunya. Dia mengaku nyaman dan betah bersekolah di MTs Sururon.

Yakub tak canggung untuk bergaul, selain pengajarnya cukup baik dan dekat dengan siswa. Siswa lainnya, Ali Nurdin, mengatakan, dia bersekolah di MTs Sururon karena jarak dari rumah sangat dekat, juga gratis.

Namun, keduanya ternyata memiliki tekad yang sama, walaupun cita-cita keduanya berbeda. Yakub bercita-cita menjadi artis, sedangkan Ali berharap bisa jadi dosen.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Menggali Ilmu di Sawah
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut