- VIVA.co.id/Juna Sanbawa
Bayangkan kalau itu terjadi di wilayah yang lebih luas. Maka, statement perubahan iklim akan berdampak pada krisis pangan sangat mungkin,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Selasa, 24 Februari 2015.
KRKP mencatat, pada 2010 dan 2011 terjadi penurunan produksi 15 hingga 30 persen. Menurut dia, hal itu terjadi akibat adanya perubahan iklim yang memicu ledakan hama.
Pasalnya, ada fenomena yang aneh dengan hama. Perubahan iklim tak hanya mempercepat reproduksi hama, namun juga memunculkan hama yang selama ini dianggap inferior menjadi superior.
Ia mencontohkan hama kresek pada tanaman padi. Menurut dia, hama ini dulu dianggap tidak penting karena serangannya kecil dan tak berpengaruh pada produksi.
Namun, saat ini ketika terjadi perubahan suhu, hama ini menjadi sangat masif. “Jadi perubahan iklim memicu hama yang tadinya ga apa-apa menjadi apa-apa.”
Pakar pertanian Hudori mengatakan melambungnya harga beras yang saat ini terjadi merupakan imbas dari perubahan iklim. Pasalnya, curah hujan yang normalnya terjadi pada bulan September hingga Oktober mundur satu hingga dua bulan.
Hal ini membuat musim tanam ikut mundur. “Mestinya kalau musim normal, Februari harusnya panen raya padi.
Karena mundur, jadi mundur panennya. Sekarang terjadi anomali, datangnya hujan terlambat,” ujarnya, Kamis, 26 Februari 2015.
Pemerintah Menjamin
Kementerian Pertanian (Kementan) membantah, Indonesia akan mengalami krisis pangan akibat perubahan iklim. Kepala Badan Litbang Kementan, Haryono, mengatakan hasil pertemuan antara BMKG dengan mitra kerjanya, termasuk Kementan menyatakan, iklim di Indonesia tahun ini normal.
“Jadi untuk produksi pangan ga ada masalah,” ujar Haryono kepada VIVA.co.id, Kamis, 26 Februari 2015.
Ia mengatakan, saat ini curah hujan normal. Bahkan, di sejumlah lokasi curah hujannya tinggi sehingga bagus untuk tanaman padi.
Menurut dia, memang ada curah hujan lebih tinggi sampai Ferbuari. Namun, secara umum semuanya normal.
Haryono menjelaskan, perubahan iklim hanya akan dirasakan di wilayah subtropik seperti Amerika Latin dan Etiopia. Menurut dia, iklim di Indonesia stabil karena berada di tengah.
Ia yakin, kondisi pangan tak akan terpengaruh terkait perubahan iklim. “Memang ada dinamika. Tapi pengaruhnya kecil. Dampak perubahan iklim ke pertanian itu kecil,” ujarnya menambahkan.