- VIVA.co.id/Juna Sanbawa
Haryono juga membantah saat ini pertumbuhan hama tanaman lebih ganas dan masif dibanding sebelumnya. Menurut dia, pertumbuhan hama terjadi seperti biasa, menyesuaikan siklus tanaman.
Untuk itu, ia meminta agar perubahan iklim tak dijadikan momok yang menakutkan. “Dampaknya kecil itu di tropik, terutama di Indonesia.
Tidak terganggu. Produksi padi tidak terganggu. Gangguan kecil emang ada, tapi jumlahnya tidak lebih dari lima persen. Jadi relatif aman.”
Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Hasil Sembiring, mengatakan saat ini iklim normal sehingga tak akan berpengaruh terhadap produksi tanaman pangan. Menurut dia, produksi pangan masih normal.
Bahkan, ia merencanakan ada tambahan tanam seluas 2,6 juta hektare tahun ini. Menurut dia, serangan hama hanya berdampak tiga persen dari luas tanam.
Sementara, perubahan iklim di bawah satu persen. Untuk itu, ia memastikan Indonesia tak akan mengalami krisis pangan.
Meski demikian, Kementan akan terus melakukan Inovasi agar petani mampu beradaptasi dengan cuaca. Misalnya di daerah endemik, banyak varietas tanaman unggul yang tahan terhadap perubahan iklim, baik perubahan iklim yang mendorong hama penyakit maupun terhadap banjir.
“Kalau terjadi banjir, kita sudah ada varietas tanaman yang toleran terhadap banjir,” ujarnya, Kamis, 26 Februari 2015.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga optimis, Indonesia tak akan mengalami krisis pangan akibat fenomena alam. Kepala Bappenas Andrinof Chaniago mengatakan, perubahan iklim merupakan proses panjang dan pengaruhnya bagi Indonesia belum signifikan serta bisa diantisipasi.
Antisipasi yang dilakukan adalah dengan menanam sesuai perubahan alam. Pemerintah juga akan melakukan sosialisasi dan penyuluhan. “Masyarakat harus mulai mengenal fenomena ini. Perilaku cuaca dan perkiraan musim ekstrim, perkiraan kemarau dan yang terkait.”
Hari menjelang sore. Satu demi satu, perahu nelayan merapat ke darat. Sesekali, suara kentongan yang diikuti dengan orang yang berlarian ke bibir pantai masih terjadi.
Sementara itu, beberapa nelayan tampak sibuk dengan jaring dan alat tangkap mereka. Ada yang sedang menambal jaring atau sekadar membersihkan alat mata pencaharian mereka tersebut.
Meski semakin sulit karena hasil tangkapan sedikit, para nelayan ini mengaku akan tetap bertahan. Saat ini, mereka hanya berharap pada kebaikan alam. (ren)