SOROT 333

Iklim Berubah, Bahaya Merambah

Nelayan di Yogyakarta
Sumber :
  • VIVA.co.id/Juna Sanbawa

“Beberapa daerah di bagian timur Indonesia seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah yang paling rawan terhadap ancaman ini,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 26 Februari 2015.

img_title Waspada DBD, Nyamuk Tak Mempan Lagi Fogging

Pendapat senada disampaikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain mengatakan, saat ini Indonesia sedang mengalami perubahan iklim.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Salah satu ciri dari perubahan iklim yang bisa dilihat adalah berubahnya musim. “Jadi, kita bisa lihat. Sekarang petani, musim tanamnya sudah bergeser," kata Iskandar.

img_title Atasi Krisis Energi Harus dengan Kerja Lintas Sektoral

Kadang mereka sudah tidak tahu lagi, kapan baru mulai menanam. "Semua menjadi sangat unpredictable, tidak bisa diramalkan seperti dulu yang begitu teratur,” ujar Iskandar saat dihubungi VIVA.co.id, Kamis 26 Februari 2015.

Perubahan iklim tak hanya berdampak pada terjadinya bencana alam, Ketersedian pangan terancam, terutama sektor pertanian dan sektor laut terutama pada nelayan.

img_title Belasan Basis Militer AS Bisa Lenyap Akibat Perubahan Iklim

Pada sektor laut, hasil tangkapan ikan kian sulit didapatkan mengingat musim yang tak menentu di laut. Menurut dia, cuaca di laut saat ini menyulitkan para nelayan.

“Dulu, berpatokan pada bulan ini sampai bulan ini bisa melaut. Nah, sekarang semuanya menjadi berubah,” ujarnya menambahkan. Ia mengatakan, perubahan iklim sangat dirasakan dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Manajer Advokasi dan Jaringan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah mengatakan, perubahan iklim akan berdampak pada pangan. Ia menuturkan, saat ini kenaikan suhu di Pulau Jawa rata-rata satu derajat.

Menurut dia, dari sisi ilmu Agro Ekologi angka itu pengaruhnya sangat besar. Sebab, perubahan suhu akan membawa dampak serius.

Pertama, dari sisi musim semakin tidak jelas. Ini akan membuat petani sulit menyesuaikan dan membaca iklim dan cuaca.

Kedua, bumi yang hangat tak hanya menyebabkan kekeringan dan banjir, namun juga memicu ledakan hama. Ia mengatakan, penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyatakan, semakin hangat suhu, laju reproduksi hama akan semakin cepat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Akibatnya, proses pengendaliannya semakin sulit. Sehingga, wilayah yang kena serangan akan semakin besar.

“Kita ingat 2009 -2010. Lebih dari 15 kabupaten di Jawa yang merupakan sentra padi terserang hama wereng. Akibatnya, pada 2011 kita impor beras 2,7 juta ton.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut