- VIVA.co.id/Juna Sanbawa
“Beberapa daerah di bagian timur Indonesia seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah yang paling rawan terhadap ancaman ini,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 26 Februari 2015.
Pendapat senada disampaikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain mengatakan, saat ini Indonesia sedang mengalami perubahan iklim.
Salah satu ciri dari perubahan iklim yang bisa dilihat adalah berubahnya musim. “Jadi, kita bisa lihat. Sekarang petani, musim tanamnya sudah bergeser," kata Iskandar.
Kadang mereka sudah tidak tahu lagi, kapan baru mulai menanam. "Semua menjadi sangat unpredictable, tidak bisa diramalkan seperti dulu yang begitu teratur,” ujar Iskandar saat dihubungi VIVA.co.id, Kamis 26 Februari 2015.
Perubahan iklim tak hanya berdampak pada terjadinya bencana alam, Ketersedian pangan terancam, terutama sektor pertanian dan sektor laut terutama pada nelayan.
Pada sektor laut, hasil tangkapan ikan kian sulit didapatkan mengingat musim yang tak menentu di laut. Menurut dia, cuaca di laut saat ini menyulitkan para nelayan.
“Dulu, berpatokan pada bulan ini sampai bulan ini bisa melaut. Nah, sekarang semuanya menjadi berubah,” ujarnya menambahkan. Ia mengatakan, perubahan iklim sangat dirasakan dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Manajer Advokasi dan Jaringan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah mengatakan, perubahan iklim akan berdampak pada pangan. Ia menuturkan, saat ini kenaikan suhu di Pulau Jawa rata-rata satu derajat.
Menurut dia, dari sisi ilmu Agro Ekologi angka itu pengaruhnya sangat besar. Sebab, perubahan suhu akan membawa dampak serius.
Pertama, dari sisi musim semakin tidak jelas. Ini akan membuat petani sulit menyesuaikan dan membaca iklim dan cuaca.
Kedua, bumi yang hangat tak hanya menyebabkan kekeringan dan banjir, namun juga memicu ledakan hama. Ia mengatakan, penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyatakan, semakin hangat suhu, laju reproduksi hama akan semakin cepat.
Akibatnya, proses pengendaliannya semakin sulit. Sehingga, wilayah yang kena serangan akan semakin besar.
“Kita ingat 2009 -2010. Lebih dari 15 kabupaten di Jawa yang merupakan sentra padi terserang hama wereng. Akibatnya, pada 2011 kita impor beras 2,7 juta ton.