SOROT 334

Menjegal Begal

jaguar
Sumber :
  • Polresta Depok

desa begal motor

img_title Begal Sadis di Cakung Diringkus Polisi

Dalam penggerebekan polisi menemukan dan menyita ribuan jenis suku cadang sepeda motor murah dari kios-kios di Desa Sasak Panjang. Foto: VIVA.co.id/Zahrul Darmawan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Modus Begal

img_title Ketahuan Curi Motor di Tebet, Tangannya Dipatahkan Warga

Jika dahulu aksi pembegalan dilakukan dengan modus menghadang laju kendaraan dengan membentangkan benda besar di tengah jalan atau melakukan penghadangan langsung dengan cara berkelompok.

Kali ini, modus kejahatan pembegalan sudah semakin canggih, modus lama sudah mulai ditinggalkan karena pelaku biasanya akan lebih mudah ditangkap atau tertangkap warga.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Martinus Sitompul, pelaku pencurian dengan kekerasan alias begal di ibu kota beraksi dengan modus motor by motor.

"Caranya, pelaku menghadang calon korban dengan mengendarai sepeda motor secara berboncengan," kata Kombes Martinus Sitompul. Dari pengakuan pelaku begal yang sudah ditangkap Polda Metro Jaya, biasanya begal ibu kota beraksi dengan melibatkan empat orang.

"Dua motor saling berboncengan, satu motor memepet motor korban, satu motor merampas dan menyerang korban dengan senjata," jelas Martinus. Senjata yang dipakai para pelaku begal juga beragam, mulai dari golok, samurai, celurit hingga senjata api.

"Pelaku begal sudah tidak peduli lagi dengan kondisi korban, setelah berhasil mereka tinggalkan korban dalam kondisia apapun," papar Martinus. Jika dahulu begal beraksi di tepi hutan atau di tengah jembatan. Kali ini begal bisa beraksi di lokasi apapun.

Baik itu di jalanan tengah kota maupun di tepi kota. "Bagi mereka yang penting kondisi lokasi eksekusi sepi dan cukup gelap," ujarnya.

Siapa pun yang berkendara sepeda motor, baik itu seorang diri ataupun berboncengan, laki-laki atau wanita, asalkan berada di lokasi yang gelap dan sepi, itulah yang jadi sasaran empuk kelompok begal.

Menurut krimonolog Universitas Indonesia, Prof. Dr. Muhamad Mustofa, kejahatan pembegalan semakin marak karena beberapa hal. "Aksi begal saat ini lebih marak karena lebih berhubungan dengan lemahnya pengendalian sosial atau pengawasan," kata Mustofa.

Menurut Mustofa, pelaku begal cenderung melakukan aksi-aksinya dengan cara lebih sadis seperti sekarang ini karena si pelaku ingin kejahatannya berhasil tanpa harus mendapatkan perlawanan dari korbannya.

Selain itu, pelaku begal jama sekarang terlihat ingin sekali menunjukan rasa puas akan setiap aksi kejahatannya dengan melukai bahkan membunuh korban-korbannya. "Dengan melakukan kekerasan terhadap korban, si pelaku akan merasa lebih berhasil melakukan kejahatannya," ujarnya.

Mustofa memaparkan, banyak hal yang melatarbelakangi aksi kejahatan pembegalan. Naun utamanya, pelaku ingin memiliki harta benda yang lebih bukan lagi sekedar untk membeli makan.

"Kalau latarbelakang itu bermacam-macam tapi yang pasti dia ingin memiliki atau memperoleh harta benda karena selama ini yang menjadi korbankan adalah pengguna sepeda motor dan yang dirampas adalah sepeda motornya maka target si pelaku adalah mau mencari harta benda dengan cara melanggar hukum," ungkapnya.

Dari hasil analisis Mustofa, pelaku begal lebih memilih gaya hidup mencari harta benda dengan cara melanggar hukum, pemilihan gaya hidup pun dipengaruhi oleh banyak faktor.

"Gaya hidup sekarang inikan orang dibombardir dengan iklan-iklan contohnya seperti gaya hidup seseorang yang menggunakan ponsel, sekarang kan tidak ada satu orang pun yang tidak punya ponsel belum lagi iklan-iklan ponsel sudah banyak sekali belum lagi ada istilah kalau seseorang menggunakan ponsel lama dibilang jadul maka dengan begitu banyak orang untuk memenuhi gaya hidup dengan cara-cara yang tidak baik," jelas Mustofa.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut