SOROT 335

Menyimpan Nostalgia di Pasar Kranggan

Pasar Kranggan di Yogyakarta
Sumber :
  • VIVA.co.id/Rochimawati

VIVA.co.id - Tangan Ayu Kusumawardani tampak cekatan. Sigap bergerak menempatkan nasi putih, kubis, tauge, hingga sohun dalam sebuah piring kosong. Sejumput bawang goreng serta daun seledri ditambahkan dalam racikannya.

img_title Pasar Santa, Pasar untuk Semua

Kuah yang telah diisi daging sapi pun disiramkan di atasnya. Hasilnya sepiring "soto sampah" terhidang. Cukup murah. Satu porsi soto sampah lengkap hanya Rp5.000.

"Dinamai soto sampah karena di dalamnya bisa ditambah dengan lauk atau gorengan yang ada. Jadi, terlihat penuh, soal kelezatan dijamin, karena yang pernah makan di sini pasti balik lagi," kata Ayu sambil melayani pelanggannya.

Warung soto sampah ini buka 24 jam. Selain soto, pembeli juga bisa memesan nasi rames dengan lauk sederhana seperti gorengan, telur dadar, dan sayur oseng-oseng.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ya, sajian kuliner itu hanya ditemui di sekitaran Pasar Kranggan, Yogyakarta. Kota penuh nostalgia bagi yang pernah mengunjunginya. Selain budayanya, keramahtamahan penduduknya, kulinernya hingga keberagaman suku ada di Yogyakarta. Ibarat Indonesia mini, di sini lah tempatnya.

Salah satu yang tidak dilupakan adalah keberadaan pasar tradisional. Di Yogya, selain Pasar Beringharjo di Malioboro, Pasar Kranggan yang berada di Jalan Diponegoro itu juga sangat terkenal.

img_title Pasar PIK: Tempat Belanja Bernuansa Singapura

Selain karena lokasinya yang dekat dengan ikon Yogyakarta yaitu Tugu Pal Putih, di sekitar pasar yang baru direnovasi ini juga banyak tersedia kuliner khas Yogyakarta.

Pasar Kranggan di Yogyakarta
Suasana di salah satu sudut Pasar Kranggan di Yogyakarta. Foto: VIVA.co.id/Rochimawati

img_title Serunya Kuliner di Pasar Modern BSD City

Menurut cerita, nama Pasar Kranggan diambil dari nama seorang pejabat keraton, Tumenggung Rangga Prawirasantika. Di masa penjajahan Belanda, penyebutan daerahnya "Raden Rangga" hingga kemudian menjadi "ke-rangga-an" yang berubah jadi Kranggan, namanya kini.

Di antara deras modernisasi berupa pusat perbelanjaan gedongan alias mal, Kranggan tetap gagah mengakar, mempertahankan citarasa tradisional. Seolah menjadi cerminan sejarah Ngayogyakarta Hadiningrat. 

Alkisah, dulu Pasar Kranggan juga menjadi saksi betapa sahaja dan berwibawanya Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Diceritakan dalam buku "Tahta Untuk Rakyat", Sri Sultan pernah mengantarkan salah satu warganya ke Pasar Kranggan menggunakan mobil jip yang dia kendarai, namun menolak bayaran.

Sang warga, seorang wanita paruh baya, merasa dilecehkan dan marah-marah, karena si sopir tidak mau menerima upah ala kadarnya. Saat diberitahu bahwa "si sopir" adalah Sri Sultan, wanita itu jatuh pingsan, tak kuat menahan malu karena telah bersikap kurang ajar pada rajanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut