SOROT 348

Puasa Membawa Sehat

Santunan Anak Yatim di Bulan Ramadhan
Sumber :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

buka puasa mancanegara

img_title Pemadaman Karhutla di Kalimantan Barat Pakai Metode Suntik Gambut, Begini Caranya

Sejumlah negara menjalani ibadah puasa dengan waktu lebih lama karena perbedaan waktu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Sebenarnya waktu awal-awal puasa di sini waktunya masih terbilang normal seperti di Indonesia. Tapi kalau nggak salah, baru sejak 2011 puasanya mulai dari jam 5 subuh sampai 8.30 malam," ujarnya.

Meski begitu, mahasiswa S2 jurusan Global Business and Finance di Brooklyn College itu mengatakan, tidak masalah menjalani puasa dengan waktu lebih lama, karena kendala yang sesungguhnya yang ia hadapi justru masalah cuaca.

"Tahun lalu jadi kendala banget, karena saya ambil semester pendek dan cuaca saat itu panas sekali, jadinya haus. Kalau tahun ini cuacanya dingin, jadi Insyallah tak separah keamrin," ujar pria 25 tahun itu.

Hal kurang lebih sama dialami Raisa Shahrestani, mahasiswi yang menjalani studi di Belgorod, Rusia. Ramadhan yang jatuh di musim panas tahun ini membuat ibadah puasanya sedikit tesendat.

"Puasa di sini kan pas musim panas, jadi udaranya nyengat. Selain itu, kalau musim panas udara kering, nggak lembab kayak di Tanah Air. Jadi lumayan berat ujiannya," ujar Raisa, yang telah dua kali menjalani ibadah puasa Ramadhan di negara itu.

Tantangan utama yang ia hadapi, adalah waktu berpuasa yang demikian panjang, sekitar 19 jam mulai dari pukul setengah 3 pagi, hingga 9 malam. Tak bisa dipungkiri, pertama kali menjalani puasa di Eropa Timur, ia merasa lemas. Namun semakin lama mulai terbiasa.

Mahasiswa S2 jurusan Penerjemahan Inggris-Rusia, Rusia-Inggris di Universitas Negeri Belgorod itu mengungkapkan, tantangan lain yang harus dihadapi di sana, karena tinggal di kota kecil adalah tidak bisa melakukan ibadah salat Tarawih berjamaah layaknya di Indonesia.

Lalu jarak antara jam buka menuju sahur yang terbilang singkat membuat wanita 28 tahun itu, memilih sering tidak tidur semalaman. Ia baru bisa terlelap setelah selesai santap sahur.

Untuk menu, Yogi lebih memilih menyantap makanan pokok masyarakat lokal New York sebagai makanan sahur, seperti roti, dan bagel. Ketika sedang malas, ia memilih untuk hanya mengonsumsi jus buah saat sahur. "Terkadang saya beli makanan sahur, sekalian saat sedang berbuka di restoran Indonesia," ungkapnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Olahraga Indonesia Dinilai Jalan di Tempat, Sidik Algadri Tawarkan 5 Solusi untuk Benahi
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut