- VIVA.co.id/Tasya Paramitha
“Itu (corak batik) tidak ada kaitannya dengan Betawi, jadi terlepas juga dari tradisi batik Betawi yang menyejarah,” ia menjelaskan.
Menurut dia, tantangan terbesar yang dihadapi khususnya pada pengrajin batik di "Kampung Batik" adalah kemampuan mereka untuk menciptakan motif baru sembari menghidupkan kembali motif klasik Betawi. Bukannya mengikuti motif yang ada sekarang atau membuat sebuah motif baru dan mengklaimnya sebagai Betawi, tanpa dibarengi pengetahuan tentang corak khas Betawi.
Selain itu, "Kampung Batik" berpeluang besar untuk menyerap atau menarik tenaga kerja dari warga yang berada dan tinggal di daerah sekitar.
“Ya, bagaimanapun itu kan industri yang akan menyerap tenaga kerja, alangkah lebih baik jika serap tenaga kerja dari warga sekitar. Yang terpenting adalah supaya industri batik di Jakarta itu hidup lagi dan berkembang.”
Hal senada disampaikan Ridwan Saidi. Budayawan Betawi ini juga mengaku senang dengan keberadaan "Kampung Batik". Ia berharap, hadirnya "Kampung Batik" dapat bertahan lama.
"Saya sambut baik saja, karena memang dulu Jakarta juga daerah batik. Karena itu, semoga bisa bertahan aja lah, harapan kita,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 1 Juli 2015.
Menurut dia, dengan adanya "Kampung Batik", secara otomatis akan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat, karena membuka lapangan pekerjaan. “Iya dong, bermanfaat untuk masyarakat, apalagi dalam keadaan ekonomi kayak gini. Kebudayaan juga akan berkembang.”
Respons Pemerintah
Iwan mengatakan, sejauh ini respons pemerintah baru sebatas kunjungan, belum ada bantuan dalam bentuk pembinaan warga. "Kami sebenarnya lembaga non-profit, jadi lebih ke arah sosial daripada mencari profit. Tapi, bukan berarti nggak perlu dana," ujarnya.
Ia berharap, nantinya akan ada kampung-kampung batik serupa di Jakarta agar semakin banyak orang yang mengerti proses pembuatan batik dan pada gilirannya bisa turut melestarikan batik sebagai kebudayaan asli Indonesia.
"Kalau hanya memiliki atau membeli batik semua orang memang sudah melakukan. Tapi, kalau ditanya mengerti atau tidak cara pembuatannya kan banyak yang tidak tahu. Nah, itu yang mesti kita lestarikan."
Sekretaris Kelurahan Menteng Dalam, Herry Suhardiman, juga mendukung keberadaan "Kampung Batik". Menurut dia, keberadaan "Kampung Batik" mampu memberdayakan warga. Karena, selain menambah keterampilan, warga juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan.
Ia mengklaim, pemerintah selalu mendukung jika "Kampung Batik" menggelar acara dan pameran. Ia pun berharap, "Kampung Batik" bisa berkembang. Namun ia mengaku, jika sejauh ini pemerintah belum membantu dari segi pendanaan.