- VIVA.co.id/Tasya Paramitha
Kini, setelah empat tahun didirikan, "Kampung Batik Palbatu" kian berkembang. Hingga saat ini, kira-kira sudah ada 4.000 orang yang belajar mengenai proses pembuatan batik.
Berbagai acara pun telah sukses diselenggarakan, seperti "Kampoeng Batik Palbatu", "Jakarta Batik Festival", "Ngebatik Sekampung", dan masih banyak lagi. Sejumlah penghargaan juga sudah mereka raih, salah satunya dari Museum Rekor Indonesia (Muri).
Warga Palbatu merasa terbantu dengan keberadaan "Kampung Batik". Romlah misalnya. Ia mengatakan, sejak ada "Kampung Batik", ia jadi bisa membatik. Selain itu, ia bisa menghasilkan kain batik dan mendapat tambahan penghasilan. Ia mengaku sudah belajar membatik sejak rumah batik berdiri.
“Seneng lah. Apalagi, ibu-ibu kan jadi ada kegiatan. Kami jadi tahu caranya ngebatik. Kan, sebelumnya nggak ngerti. Bisa ngehasilin produk batik.”
Respons positif juga datang dari pemerhati budaya Betawi, JJ Rizal. Ia mengatakan, berdirinya "Kampung Batik" merupakan sesuatu yang sangat positif. Sebab, saat ini masyarakat sudah tidak terlalu memperhatikan budaya turun-temurun Betawi melalui kain dengan motif atau corak Betawi yang khas. Karena, sudah terkontaminasi dengan budaya-budaya luar yang lebih modern.
![]()
Sejumlah piagam penghargaan menghiasi salah satu sisi Rumah Batik Palbatu di Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan. Foto: VIVA.co.id/Tasya Paramitha
“Menurut gue bagus ya. Itu tindakan atau aktivitas yang bagus. Apalagi, jika aktivitas 'Kampung Batik' itu diorientasikan bagi penghidupan kembali motif-motif batik Betawi yang klasik,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 1 Juli 2015.
Menurut dia, keberadaan "Kampung Batik" bisa memperkenalkan kembali corak batik Betawi yang saat ini mulai pudar. Sementara itu, permintaan kain atau baju dan pakaian dengan corak batik sedang banyak diminati, baik dari konsumen dalam negeri maupun luar negeri.
Terlebih, ada peraturan bagi pegawai negeri sipil (PNS) DKI Jakarta yang wajib mengenakan pakaian khas Betawi setiap Jumat.
“Dengan adanya 'Kampung Batik', maka warga Jakarta maupun para PNS dan seluruh pengunjung 'Kampung Batik' dapat mengetahui perbedaan antara corak batik Betawi yang asli dengan lainnya,” dia menambahkan.
JJ Rizal menyayangkan, banyak orang yang asal dalam memilih kain atau baju batik. Karena, menurut dia, saat ini banyak bermunculan motif batik yang asal-asalan dan jauh dari sejarah Betawi, seperti gambar ondel-ondel, Monas, Kembang Kelapa, dan sebagainya.